Rabu, 21 November 2012

Pesantren sebagai Pusat Pengembangan Masyarakat



Pesantren berfungsi sebagai tolak dan dasar berpijak bagi organisasi swadaya dan digunakan oleh penduduk sebagai jawaban atas marginalisasi yang kian meningkat oleh administrasi negar yang eksploitatif (Ziemek, 1986:179).
Perubahan Dalam Usaha Pendidikan
Proses peruahan dalam isi, cara dan kelompok tujuan, yang berlangsug dalam perkembangan pendidikan pesantren, telah diuraikan dalam pembahasan sejarah dan di sini hanya akan dilanjutkan dari perspektif orientasi lingkungan yang meningkat.
Berdasarkan kedudukan sosial dan politik pesantren terhadap lingkungan yang mengelilingi dan mendukungnya, terdapat hal-hal yang dapat dibedakan; atasdasar ini berlangsung proses perubahan yang khas (Ziemek, 1986:180):
-          Program pendidikan tradisional dalam lingkungan intern, yang terarah pada santri, dibedakan dan diperluas dengan isi non-agama dan dimodernisasi metodenya.
-          Dengan partisipasi yang semakin kuat dari pesantren dalam kegiatan-kegiatan lingkungan, maka pesantren semakin mengambil alih fungsi pusat-pusat pengembangan lingkungan. Kesanggupan tradisionalnya untuk memobilisasi sumber daya masyarakat pedesaan, sekarang lebih banyak dimanfaatkan untuk rencana-rencana pengembangan infrastruktur ketimbang untuk tujuan keagamaan.
-          Sebagai akibat re-orientasi ini, maka kedudukan pimpinan pesantren juga berubah dalam proses pengambilan keputusan lingkungan.
Untuk menjamin peranan sosia dan politik pendidikannya di alam Indonesia modern, pesantren mulai mengambil alih tugas-tugas baru dan tambahan. Dengan demikian lebih kukuh mengurus perkembangan lingkungan masyarakatnya dengan menangani suatu bidang, yang diabaikan oleh konsep pembangunan Negara. Disini pesantren menemukan lapangan baru, untuk menunjang proses perubahan sosial, lewat pendidikan sebagai tenaga terpadu (Ziemek, 1986:181).
Pengembangan Lingkungan Sebagai Wahana Pendidikan
Partisipasi aktif dari pesantren yangjumlahnya semakin banyak pada rencana pembangunan lingkungan dalam bentuk ini merupakan gejala baru dan seolah-olah akibat dari dinamika, yang dalam masa panca colonial diinduksi oleh banyak desakan budaya, politik, sosial dan ekonomi, terhadap mana sekarang ini pesantren bereaksi dengan berbagai cara. Terutama dalam hal ini terdapat kesadaran baru mengenai peranan Islam dalam Indonesia modern dan kemauan, secara aktif, turut  membentuk struktur sosial yang cepat berubah (Ziemek, 1986:187).
Pesantren merasakan pengaruh-pengaruh strategi pembangunan Negara sebagai obyek, oleh karena sebagai organisasi-organisasi yang berakar dalam lingkungan pedesaan. Di samping pengaruh-pengaruh positif dari modernisasi sosial, ekonomi, mereka juga  harus merasakan efek sampingan, akibat peningkatan polarisasi ekonomi dari penduduk dengan mayoritas yang semakin miskin dan berkurangnya partisipasi pada proses  pengambilan keputusan dari rencana pembangunan Negara. Sehubungan dengan itu peristiwa marginalisasi dianggap sebagai perkembangan yang mengakibatkan suatu kecenderungan berkurangnya partisipasi mayoritas penduduk pedesaan pada keputusan-keputusan politik lingkungan yang langsung mengenainya dan bertalian dengan itu, juga pada peningkatan pendapatan dan pemenuhan kebutuhan pokok (Ziemek, 1986: 188-189).
Upaya mencapai kebebasan, kemandirian, memanfaatkan dan mengeksploitasi sumber daya sendiri yang potensial adalah unsure sosialisasi yang mutlak dalam pesantren. Pada aktu bersamaan hal-hal tersebut menjadi syarat bagi kehidupan menurut moral dan etika Islam (Ziemek, 1986: 189).
Akan tetapi terutama tergantung pada kesadaran masing-masing kyai, sampai di mana mereka bersedia untuk memperluas usaha pendidikan keagamaan tradisional sesuai dengan itu. Karena posisi yang menentukan dari pemimpin agama: akhirnya pengertian dan penafsirannya mengenai perubahan-perubahan sosial-ekonomi di masing-masing lingkungan sehubungan dngan ruang lingkup tugas pendidikan keagamaannya, menentukan apakah berfaedah memperluas usaha pesantren dengan program pendidikan dan perkembangan sekuler (Ziemek, 1986:190).
Peranan Politik Pesantren
Pesantren sehubungan dengan peranan politik kemasyarakatan berada dalam tatanan hubungan, yang mempunyai tiga komponen, yaitu: pesantren (dan/atau Kyai), masyarakat, kelembagaan Negara (pemerintahan daerah/ lingkungan instansi Negara) (Ziemek, 1986:191).
Pesantren atau pemimpin pesantren secara nyata mempunyai peranan yang berpengaruh pada proses pengambilan keputusan masyarakat. Selain dari itu juga mereka dapat mempengaruhi masyarakatnya, hingga melampaui batas bilamana mereka menggunakan hubungan pribadi formal dan informal dan hubungan resmi dengan pengambil keputusan dan sanggup membela kepentingan vital mereka dalam pusat-pusat kekuasaan politik (Partai Islam, Parlemen, Departemen Agama, Majelis Ulama) (Ziemek, 1986:196).
Konsep Pembangunan Berdasar Kemasyarakatan
Adapun kecenderungan-kecenderungan pengajaran pesantren untuk berorientasi kemasyarakatan secara secular dan lebih kuat telah dibagi dan direalisasi dalam jenjang berikut (Ziemek, 1986:197:
-          Isi pendidikan secular ditambah pada mata pelajaran yang tradisional; madrasah dan kemudian juga sekolah-sekolah yang terbuka bagi masyarakat sekelilingnya di gabungkan pada pesantren/
-          Memperkuat interaksi antara  masyarakat dan pesantren, di dalamnya program pendidikan secular dan keagamaan untuk penduduk desa diorganisasi atau program pembangunan desa dalam swadaya masyarakat di bangkitkan dan turut di dukung oleh pesantren.
Keanekaragaman dan individualitas luar biasa dari pesantren menghendaki, bahwa kecebderungan untuk memodernisasi ilmu pendidikan pesantren memang jelas terlihat. Akan tetapi di pihak lain ia tidak berlaku umum bagi semua pesantren. Dalam alam modern Indonesia terdapat berbagai bentuk pesantren sejajar satu dengan lainnya: pesantren yang seperti biasa masih terisolasi dari masyarakat dan semata-mata bersifat keagamaan, sampai pada “pusat pendidikan masyarakat” terpadu, dimana para santri penduduk desa membentuk suatu masyarakat belajar.
Kerja Sama Pesantren dengan Lembaga Swasta
Sejak awal tahun 70-an terdapat minay yang semakin meningkat terhadap peranan bentuk pendidikan tradisional, oleh karena padanya ditemukan alat yang lebih berpotensi untuk memajukan penduduk Islam pedesaan. Prakarsa datang dari dua pihak (Ziemek, 1986:211):
-          Dari mentri Agama Prof. Mukti Ali, yang mndorong perluasan horizontal lebih kuat dari kegiatan pendidikan pesantren, yang juga harus mencakup pelajaran bukan hanya keagamaan. Sumbangan pesantren sebagai komponen sistem pendidikan nasional yang terutama mengarah kepada penduduk desa, harus dibantu dan ditingkatkan.
-          Dan para ilmuwan dan akademisi muda Islam yang mengenal secara dini potensi pesantren yang strategis untuk pembangunan. Mereka mencari dialog dengan para Kyai yang berpengaruh dan terbuka serta cendekiawan Islam tentang pentingnya penyesuaian dan pembaharuan sektor pendidikan tradisional.
Karena motivasi dan iktikad kedua pihak tidak bertentangan, maka berkembanglah suatu kerja sama yang terbatas, terutama dalam penelaah ilmiah tentang penilaian potensi pesantren.
Dalam diskusi-diskusi para ilmuwan dan wartawan mengenai masalah bagaimana melaksanakan proyek, mengiku sertakan sebagian penduduk desa secara lebih aktif di dalam pembangunan pedesaan, pesantren mendapatkan perhatian yang baru. Dialog yang selanjutnya berkembang antara rekan-rekan dalam lembaga ini dengan para pimpinan pesantren juga kemudian telah dilaksanakan atas dasar pandangan ini. Berulang kali dibahas kemungkinan-kemungkinan, peran dan kepentingan pesantren akan suatu penyesuaian kegiatan pendidikan.
Spektrum Program Pengembangan Desa
Struktur Organisasi
Kegiatan pengembangan yang berorientasi pada masyarakat sebagai suatu perluasan yang diciptakan secara tetap dari program pedagogi pesantren, maka suatu institusionalisasi ada manfaatnya, karena alasan-alasan berikut Ziamek, 1986:222):
-          Pembuatan konsep secara sistematis dan efisien serta pelaksanaan program aksi kegiatan akan meningkat, jika para TPM memiliki fasilitas-fasilitas institusional yang khusus di pesantren (secretariat, perpustakaan, ruang kerja, bengkel dan sebagainya).
-          Akan memudahkan pesantren memanfaatkan tawaran bantuan organisasi ekstern dan menggunakan bagi kegiatan pengembangan desa (baik jasa pemerintah, misalnya untuk bidang kesehatan, pengembangan pertanian, bank, jasa informasi, perkoperasian maupun lembaga swasta dan organisasi sponsor).
-          Sebagai komponen-komponen baru kegiatan pendidikan pesantren, maka program yang berorientasi pada masyarakat hendaknya secara institusional diintegrasikan pula dan untuk disediakan ruangan-ruangan.
Di sebagian besar pesantren, kegiatan yang berorientasi pada masyarakat masih belum sedemikian rupa melembaga, sehingga sauna organisasi lainnya, seperti perhimpunan santri/ pelajar atau organisasi santri/ swadaya mengambil alih fungsi-fungsinya.
Spektrum program mengenai masyarakat yang oleh kelompok-kelompok swadaya dapat dilaksanakan, adalah besar sekali dan mencerminkan kebutuhan-kebutuhan dasar terpenting yang dirasakan masyarakat sendiri dan meliputi (Ziamek, 1986:223):
-          Program yang berorientasi pada pendapatan
-          Program yang berorientasi pada kesehatan
-          Program yang berorientasi pada lingkungan,
Dan seringkali menggunakan teknologi yang cocok dengan keadaan masyarakat (teknologi tepat guna – teknologi desa).
Pembangunan Produktifitas
Usaha beraneka ragam di bidang ini meliputi langkah-langkah ekonomi yang langsung menguntungkan rumah tangga dan perusahaan kecil, karena meningkatkan pendapatan yang diterima atau tingkatan keperluan hidup mereka. Para anggota KSM saling membantu dengan informasi dan menyelesaikan beberapa kegiatan perusahaan secara bersama (misalnya pengadaan barang produksi, pupuk, insektisida, makanan hewan, bibit atau pemasaran hasil produksi) (Ziamek, 1986:223).
Sektor-sektor produksi meliputi (Ziamek, 1986: 223-224):
-          Bidang pertanian (pengadaan bibit, pupuk, insektisida dan sebagainya)
-          Pemeliharaan ternak dan unggas (ayam, itik, kambing, sapi)
-          Pemeliharaan Ikan (usaha kolam dan pemeliharaan belut)
-          Industry rumah tangga (kerajinan barang seni, makanan dan pembuatan minuman)
-          Perdagangan eceran (perdagangan keliling)
Program Kesehatan
Program-program pesantren yang berorientasi pada kesehatan tidak hanya terbatas pada bantuan bila menderita sakit parah, melainkan dimulai dari pencegahannya, karena biaya upaya pencegahan jauh lebih kecil daripada biaya pengobatan. Oleh sebab itu, upaya telah dimulai dengan meringankan masalah yang berhubungan dengan makanan (pemberian tambahan makanan kepada anak-anak yang kekurangan makanan), perbaikan mutu makanan dengan mengadakan diet yang lebih bergizi dan berimbang (Ziamek, 1986:226).
Tujuan sebagian besar program swadaya adalah peningkatan penyediaan obat-obatan. Juga penanaman tanaman obat-obatan tradisional di daerah pedesaan Jawa masih dilakukan secara luas dan ditingkatkan. Usaha Kesehatan Masyarakat terdiri dari paket-paket upaya yang berbeda. Pembangunan tempat-tempat penyimpanan obat-obatan, dilaksanakan dalam hubungan dengan dinas kesehatan pemerintah (puskesmas) pada tingkat kecamatan (Ziamek, 1986:226).
Program Pengembangan Lingkungan
Di Jawa yang sangat terancam bahaya erosi dan berpenduduk sangat padat, adanya upaya melindungi lingkungan alam sangat besar artinya. Akan tetapi, kesadaran umum penduduk pedesaan tentang perlunya perlindungan seluk beluk ekologi, hamper tidak ada. Program-program pesantren dapat berpengaruh sangat besar terhadap pembentukan opini. Upaya yang berorientasi pada masyarakat dan dikemukakan di sini, berpusat dalam hubungan ini pada pelestarian dan pemanfaatan ruang hidup yang langsung dan meliputi (Ziamek, 1986:228):
-          Program penghijauan
-          Perbaikan perumahan (ventilasi, jendela, lantai bersih)
-          Usaha perkebunan hortikultura dan pemanfaatannya.
Keistimewaan Program yang Berorientasi pada Masyarakat
Usaha pedagogis yang dikemukakan disini dari program pesantren yang berorientasi pada masyarakat, merupakan bagian dari suatu pengertian baru yaitu suatu konsepsi yang memberikan arti strategis paling utama kepada peranan kelompok-kelompok swadaya sukarela bagi pengembangan daerah pedesaan yang terpadu dan partisipatif (Ziamek, 1986:229).
Akhirnya, penggabingan yang terkendalikan dari masing-masing program otonom pesantren-pesantren yang ingin mempertahankan individualitas dan identitas mereka, membawa permasalahan tersendiri dalam koordinasi dan integrasi. Oleh sebab itu, usaha mengadakan penggabungan yang lebih kuat dan perluasan konsepsi harus mendapat perhatian tersendiri (Ziamek, 1986:230).
Partisipasi Kelompok Sasaran ke dalam Perencanaan dan Pelaksanaan
Partisipasi kelompok sasaran mengandung tiga hal: partisipasi dalam pengambilan keputusan, pelaksanaan dan hasil (Ziamek, 1986:231).
Oleh karena dalam masyarakat tradisional dengan struktur paternalistic, keputusan-keputusan yang mengikat dan berlaku umum biasanya diambil oleh para pemimpin yang telah diakui dan dinyatakan dalam bentuk “permintaan”, “anjuran” atau oleh kelakuan teladan, maka unuk menginginkan partisipasi kelompk-kelompok yang berorientasi pada tradisi, perlu adanya keterlibatan para pemimpin yang mewakili mereka.
Mengenai kegiatan pesantren-pesantren yang berhubungan denan masyarakat, perlu diperhatikan bahwa disini berlangsung proses-proses beberapa tingkat dan sebab itu, kelompok-kelompok sasaran yang berbeda pula harus diberi motivasi untuk berpartisipasi: untuk merangsang prakarsa pesantren agar turut serta mendapat bantuan dari kelompok-kelompok swadaya desa, maka yang diperlukan pertama-tama adalah pemberian motivasi kepada kyai atau guru-guru berusia muda yang berpengaruh. Ia akan meyakinkan/ menganjurkan keada santri-santrinya dengan argumentasi-argumentasi berdasarkan agama dan moral, dalam artian melakukan kegiatan sesuai dengan program-program yang diinginkan (Ziamek, 1986:231).
Pada tahap kerja sama ini, rencana-rencana untuk pengembangan pesantren telah diarahkan kepada kebutuhan-kebutuhan yang mereka tentukan sendiri, jadi bertujuan mengatasi kendala-kendala yang oleh pesantren dianggap sebagai prioritas. Dengan entry point ini (entry point: sering kali berupa upaya perbaikan prasarana pesantren di bidang penyediaan air, hygiene, pembangunan perpustakaan, dan sebagainya) dimaksud, agar sejak awal melibatkan pimpinan pesantren dan mengintensifkan komunikasi. Dengan demikian ada kemungkinan untuk saling mengenal pandangan, keinginan, harapan dan kebutuhan masing-masing untuk membatasi lingkungan kerja sama yang merupakan dasar bersama bagi program-program kemudian. Bagi suatu kerja sama efektif dengan para kyai, guru dan santri berpandangan maju, pemrakarsa proyek pertama-tama harus mengetahui penilaian mereka mengenai kebutuhan-kebutuhan hidup pesantren serta mendapat informasi tentang kendala-kendala obyektif dan subyektif (Ziamek, 1986: 233).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar