Loading...

Senin, 13 Agustus 2012

KERAJAAN DEMAK


2.1  Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Demak
Demak dahulunya disebut dengan daerah yang dikenal dengan nama Bintoro atau Glagahwangi. Mengenai nama Bintoro ini terdapat berbagai pendapat adalah sebagai berikut (Salam, Solichin, 1960:14) :
  1. Dr. R. M. Soetjipto Wirjosoeparto
“Demak dari bahasa Kawi: artinya ialah pegangan (pemberian). Yang dimaksud Demak itu sesungguhnya daerah yang dihadiahkan rupa-rupanya oleh raja Majapahit kepada R. Patah. Daerah yang dihadiahkan oleh raja itu selalu disertai surat  resmi semacam besluit yang dipegang oleh orang yang menerimanya. Apabila R. Patah menerima hadiah tanah di pantai utara Jawa pemberian ini diberikan kepadanya (Demak), untuk dipegang (dikuasai). Adapun kata Bintoro, saya belum pernah dengar. Menurut paham saya, rupa-rupanya Bintoro berhubungan dengan perkataan betoro, dan betoro itu ialah gelar dari Dewa Syiwa. Bahwa bintoro itu ada hubungannya dengan betoro yang dalam agama Hindu dianggap bertahta dibukit kramat yang bernama Himalaya atau Parwata, keterangan ini diperkuat oleh nama bukit perwata di Grobogan”.
  1. Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka
Nama Demak itu adalah dari bahasa Jawa Kuno, ujarnya:
“Menurut riwayat, Demak itu menurut bahasa Jawa Kuno, artinya hadiah; Demak-cerkam.”
  1. Hamka
Nama Demak itu berasal dari bahasa arab:
“Menurut pendapat saya, kata Demak itu berasal dari bahasa Arab Dama’, artinya “air mata”. Karena kesulitan menegakkan Islam, maka dinamika Demak.
  1. H. Oemar Amin Hoesin
“Demak mungkin berasal dari kata bahasa arab Dimyat suatu nama kota yang terdaat di Mesir. Sebab pada zaman khalifah Fatimyah guru-guru agama banyak yang datang ke Indonesia, adalah dari sana”.
  1. Menurut Solichin Salam sendiri
Besar dugaan Demak itu berasal dari bahasa Arab, Dhima’ yang artinya rawa. Hal ini mengingat, bahwa di daerah Demak dimana ibu kota islam itu didirikan, adalah tanahnya kebanyakan berasal dari bekas rawa. Bahkan sampai sekarang jika musim hujan di daerah Demak sering digenangi air, maklumlah karena tanahnya adalah bekas rawa.

Glagahwangi atau Bintoro merupakan daerah kadipeten dibawah kekuasaan Majapahit. Kadipeten Demak tersebut dikuasai oleh Raden pattah. Raden Pattah adalah seorang keturunan raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi) yang juga termasuk dengan Raja Majapahit.
            Islam berkembang di Demak, karena Demak dijadikan sebagai wilayah untuk persebaran islam maka Demak banyak digunakan sebagai kota perdagangan yang sekaligus dengan penyebaran agama Islam di Jawa.
Kerajaan Demak adalah kerajaan  islam yang muncul pada tahun ± 1500 ─ ±1550. Demak adalah salah satu kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam yang berkembang di pantai utara pulau Jawa pada abad ke 15. Orang yang berkuasa di Demak pada permulaan abad – 16 adalah Raden Patah (Departemen Pedidikan dan Kebudayaan, 1975:319). Sekitar tahun 1500 seorang bhupati Madjapahit bernama Raden Patah, yang berkedudukan di Demak dan  memeluk agama islam (Soekmono,R., 1959:49), Raden Patah pula adalah raja pertama yang menganut agama Islam di Jawa.
Dalam penyiaran dan perkembangan Islam di Jawa selanjutnya, umumnya para muballigh Islam dikenal dengan sebutan Wali. Mereka ini kemudian mensentralisir aktivitetnya, dengan menjadikan kota Demak sebagai pusat kegiatan mereka. Atas permintaan Sunan Ampel, Raden Patah ditugaskan mengajarkan agama Islam serta membuka pesantren di desa Glagah Wangi[1] termasuk daerah kebupaten Jepara pada waktu itu, yang kemudian terkenal dengan nama Bintoro (Salam, Solichin, 1985:14).
            Maka dapat dikatakan bahwa, selain untuk memikirkan dalam bidang Politik, Raden Patah juga mengutamakan dalam penyiaran agama Islam yang terus dilakukan olehnya. Awal, yang dilakukan Raden Patah di tempat tersebut adalah dengan membangun atau membuka madrasah atau pondok pesantren, hal itu dapat dilakukan oleh Raden Patah dengan sebaik-baiknya. Dari kegiatan agama yang dilakukan oleh Raden Patah di daerah tersebut, selain tempat tersebut digunakan untuk menimba ilmu pengetahuan tentang agama, tetapi juga digunakan untuk perdagangan, karena tempat  tersebut juga dijadikan sebagai pusat kerajaan Islam pertama di Jawa.
            Kerajaan Islam pertama di Jawa dapat diduga berdiri pada tahun 1478 M. Hal ini didasarkan atas jatuhnya Kerajaan Majapahit. Karena Demak termasuk dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit sebelum Raden Patah menjadi Raja atau penguasa dari Kerajaan Demak. Pada suatu ketika Demak dapat membebaskan diri dari Kerajaan Majapahit, hal tersebut karena adanya perlawanan antara Kerajaan Majapahit dengan Demak, dan karena hal itu pula Kerajaan Mataram mengalami keruntuhan.
            Akan tetapi sebenarnya kejatuhan Kerajaan Majapahit bukanlah akibat dari serangan dari Demak, melainkan disebabkan antara lain oleh keretakan dari dalam sendiri[2] (Salam, Solichin, 1960:12). Maka dapat dikatakan bahwa penyebab dari runtuhnya Kerajaan Majapahit adalah karena ulah dari Kerajaan Majapahit itu sendiri pada masa lalu yang bertindak sewenang-wenang terhadap daerah kekuasaan dari Kerajaan Majapahit tersebut. Karena Kerajaan Majapahit itulah salah satunya sehingga Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden Pattah.
            Selain itu menurut Solichin Salim, 1960:12, adapun mula-mula yang menyebabkan Kerajaan Majapahit menjadi lemah sehingga mengalami keruntuhannya, antara lain disebabkan:
1.      Peperangan saudara antara Wikramawardhana dan Wirabumi yang terus menerus
2.      Pusat Pemerintahan kurang kuat
3.      Agama Islam telah mulai berkembang dengan pesat diseluruh Indonesia
4.      Perdagangan dengan Malaka terputus, karena Malaka makin maju dan menjadi pusat perdagangan.
5.      Agama Islam telah masuk lebih dahulu dalam Kerajaan Majapahit
6.      Pegawai-pegawai yang masuk Islam selalu berselisih dengan orang-orang yang masih beragama lama. Dan akhirnya serangan dari Girindra Wardhana dari Keling.
            Lalu dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit, maka dapat dikatakan bahwa Demak telah bebas dari bayang-bayang Kerajaan Majapahit yang pernah menguasainya. Menurut cerita Raden Patah itu bahkan sampai berhasil merobohkan Madjapahit dan kemudian memindahkan semua alat upacara Kerajaan dan pusaka-pusaka Majapahit ke Demak, sebagai lambang dari tetap berlangsungnya Kerajaan kesatuan Majapahit itu tetapi dalam bentuk baru di Demak[3] (Soekmono,R., 1959:49).
            Lokasi Kerajaan Demak yang strategis untuk perdagangan nasional, karena menghubungkan perdagangan antara Indonesia bagian Barat dengan Indonesia bagian timur, serta keadaan Majapahit yang sudah hancur, maka Demak berkembang sebagai kerajaan besar di pulau Jawa, dengan rajanya Raden Pattah, yang bergelar Sultan Alam Akbar al-Fatah.
            Dalam peperangan yang dilakukan Raden Patah, adapula yang mengatakan tindakan Raden Patah pada saat melakukan penyerangan terhadap Kerajaan  Majapahit, Raden patah bermaksud untuk perang melawan ayahya sendiri.[4] Telah disebutkan alasan dari mundurnya Kerajaan Majapahit tersebut,[5] membuktikan bahwa Raden Patah tersebut melakukan perlawanan itu hal itu hanya karena untuk dapat mempertahankan kehormatan agama Islam. Maka dapat dikatakan bahwa peperangan yang dilakukan oleh Demak itu semata-mata untuk mempertahankan diri dari sifatnya (Defensif) dan bukan agresif.
            Dapat dilihat bahwa Demak memiliki peran yang penting dalam persebaran Islam di Jawa, karena Demak berhasil menggantikan peran Malaka, setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511. Kehadiran Portugis di Malaka merupakan ancaman bagi Demak di Jawa. Untuk mengatasi keadaan tersebut maka pada tahun 1513 Demak melakukan penyebaran dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor.
            Serangan Demak terhadap Portugis mengalami kegagalan, walaupun Demak mengalami kegagalan tetapi Demak masih akan treus berusaha menghalangi masuknya Portugis ke pulau Jawa. Pada masa Adipati Unus (1518 – 1521), Demak melakukan blokade pengiriman beras ke Malaka sehingga Portugis kekurangan makanan. Puncak dari kebesaran Demak adalah pada saat masa pemerintahan Sultan Trenggono (1521 – 1546), karena pada masa pemerintahannya Demak memiliki daerah kekuasaan yang luas dari Jawa Barat sampai Jawa Timur.
            Ekspansi Demak di Jawa Barat dimulai dengan ekspedisi Syekh Nurullah atau yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, yang berhasil berturut-turut mendirikan Kerajaan Cirebon dan Banten. Bersamaan dengan ekspansi itu terjadilah proses islamisasi daerah-daerah tersebut serta pengembangan kebudayaan Jawa.
            Adapun kehidupan sosial dan budaya masyarakat Demak lebih berdasarkan pada agama dan budaya Islam karena pada dasarnya Demak adalah pusat penyebaran Islam Demak menjadi tempat berkumpulnyapara Wali seperti Sunan Kalijogo, Sunan Muria, Sunan Kudus dan Sunan Bonang. Para Wali tersebut memiliki peranan yang penting pada masa perkembangan Kerajaan Demak bahkan para Wali tersebut menjadi penasihat bagi raja Demak. Dengan demikian terjalin  hubungan yang erat antara raja/bangsawan, para Wali/ulama dengan rakyat. Hunungan ynag erat tersebut, tercipta melalui pembinaan masyarakat yang diselenggarakan di Masjid maupun Pondok Pesantren. Sehingga tercipta kebersamaan atau Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan di antara orang-orang Islam).
            Demikian pula dalam bidang budaya banyak hal yang menarik yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Demak. Salah satunya adalah Masjid Demak, di mana salah satu tiang utamanya tersebut dari pecahan-pecahan kayuyang disebut Soko Tatal. Masjid Demak dibangun atas pimpinan Sunan Kalijogo. Diserambi depan Masjid/Pendopo itulah Sunan Kalijogo menciptakan dasar-dasar perayaan Sekaten (Mulid Nabi Muhammad SAW.) yang sampai sekarang masih berlangsung di Yogyakarta dan Cirebon.

2.2 Masa Pemerintahan Kerajaan Demak
            Pada saat Majapahit telah mengalami kemunduran secara langsung wilayah kekuasaannya mulai dapat memisahkan diri. Begitu juga dengan Demak yang juga memisahkan diri dari wilayah Majapahit, dengan mendirikan kerajaan sendiri yaitu Kerajaan Demak. Pada saat memisahkan dari Kerajaan Majapahit Kerajaan Demak yang dikenal sebagai kerajaan Islam, mulai dapat berkreasi dengan sepenuhnya, sampai mendapatkan sebuah kejayaan. Kerajaan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di Muara sungai Demak, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria.[6] Bintoro sebagai pusat Kerajaan Demak terletak antara Bergola dan Jepara, dimana Bergola adalah pelabuhan yang penting pada masa berlangsungnya Kerajaan Mataram (Wangsa Syailendra), sedangkan Jepara akhirnya berkembang sebagai pelabuhan yang penting bagi Kerajaan Demak.
Kerajaan Demak telah menjadi Kerajaan Islam yang mencapai kejayaannya pada tahun 1511 yang dibawah pimpinan Raden Pattah, lalu pada tahun 1513 Kerajaan Demak sudah berani dalam memimpin suatu armada yang menggempur Malaka untuk mengusir orang Portugis. Sayang bahwa usaha ini gagal; armada Portugis lebih unggul (Soekmono,R, 1959:50).
Masa Kejayaan tersebut didapatkan karena dibawah pimpinan Raden Pattah yang dapat memimpin dengan baik. Berbagai usaha yang dilakukan selalu berbuah dengan baik dan memuskan.tetapi kejayaan tersebut sangatlah cepat, karena pada tahun 1518 Raden pattah meninggal dunia.
Dalam masa ini juga terdapat Kesultanan yaitu Kesultanan Demak atau juga disebut dengan Kesultanan Demak Bintara adalah kesultanan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Pattah pada tahun 1478. Kesultanan ini sebelumnya merupakan Kadipatian (kadipaten) dari Kerajaan Majapahit, dan tercatat menjadi pelopor penyebaran agama Islam di Pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya. Kesultanan Demak tidak berumur panjang dan segera mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan diantara kerabat Kerajaan. Pada tahun 1568, kekuasaan Kesultanan Demak beralih ke Kesultanan Demak ialah Masjid agung Demak, yang diperkirakan didirikan oleh Walisongo. Lokasi Ibukota Kesultanan Demak, yang pada masa itu masih dapat dilayari dari laut dan dinamakan Bintara, saat ini telah menjadi kota Demak di Jawa Tengah. Pada masa Sultan ke-4 ibukota dipindahkan ke Prawata.

2.3 Kemunduran Kerajaan Demak
            Awal dari kemunduran Kerajaan Demak adalah saat Raden Patah meninggal dunia. Lalu yang menggantinya sebagai sultan adalah Pati Unus.[7] Tidaklah lama Pati Unus dalam mengganti Raden Patah menjadi Sultan, karena Pati Unus 3 tahun kemudian beliau meninggal dunia. Pengganti dari Pati Unus adalah saudara dari beliau sendiri yaitu Pangeran Trenggana, beliau adalah orang yang giat juga seperti Sultan-sultan sebelumnya dalam menegakkan agama Islam dan memajukan Kerajaan Demak. Tetapi hal tersebut tidaklah lama, karena setelah Sultan Trenggono meninggal yang mungkin terjadi pada tahun 1546, Sultan Trenggono meninggal pada saat berusaha dalam menaklukan Pasuruan, tetapi gagal. Lalu setelah Sultan Trenggono meninggal, di Kerajaan Demak timbul kegoncangan politik yang menyebabkan pembunuhan di kalangan keluarga sultan itu sendiri (Departemen Pedidikan dan Kebudayaan, SNI3, 1975:321).
            Sebelum Sultan Trenggana meninggal, adapun hal-hal yang dilakukannya untuk Kerajaan Demak, yang disebutkan oleh R. Soekmono adalah
  1. Seorang terkemuka dari pase, bernama Fatahillah, yang sempat melarikan diri dari kepungan orang-orang Portugis, diterima oleh Trenggono dengan kedua belah tangan. Fatahillah ini bahkan ia kawinkan dengan adik sang raja sendiri dan ia ternyata adalah orang yang dapat melaksanakan maksud-maksud Trenggono, yaitu berhasil menghalangi kemajuan Portugis dengan merebut kunci-kunci perdagangan Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat.
  2. Trenggono berhasil menaklukan Mataram di pedalaman Jawa Tengah, dan juga Singhasari di Jawa Timur bagian selatan.

Adapun kegoncangan Politik di Kerajaan Demak menyebabkan adanya pertumpahan darah di kalangan keluarga sultan itu sendiri. Sunan Prawanta merasa dirinya sebagai ahli waris yang sah atas takhta Kerajaan Demak, akan tetapi ia kemudian dibunuh oleh putra pamannya. Setelah itu Sultan Kalinyamat merasa berhak atas kerajaan itu, tetapi ia mengalami nasib yang sama seprti Sunan Prawanta. Pembunuhan ini dapat dimusnahkan oleh Adiwijaya[8] yang bersekutu dengan ratu Kalinyamat. Setelah itu Adiwijaya mengangkat dirinya menjadi sultan dari Demak (Departemen Pedidikan dan Kebudayaan, SNI 3, 1975:321).
Pemindah kekuasaan di tangan Adiwijaya, sehingga dengan sewenang-wenangnya Adiwijaya memindahkan Keraton Demak ke Pajang pada tahun 1568, dengan adanya tindakan ini maka berakhirlah riwayat dari Kerajaan Demak.

2.4  Silsilah Raja-Raja Kerajaan Demak
Raja-raja Kerajaan Demak diantaranya adalah
  1. Raden Pattah (Putra Raja Majapahit Brawijaya) serta pendiri Kerajaan Demak juga
  2. Pati Unus
  3. Sultan Trenggono


[1] Demak pada masa sebelumnya sebagai suatu daerah yang dikenal dengan nama Bintoro atau Glagahwangi
[2] Seperti banyak daerah-daerah yang dahulu di bawah kekuasaan Majapahit memisahkan diri, karena rakyatnya makin lama makin hidup sengsara.
[3] Dalam waktu yang singkat pula lebih-lebih oleh karena jatuhnya Malaka ke tangan orang Portugis pada 1511, Demak mencapai kejayaannya.
[4] Prabu Brawijaya V adalah raja dari Majapahit yang sekaligus juga Ayah dari Raden Patah.
[5] Pegawai-pegawai yang masuk Islam selalu berselisih dengan orang-orang yang masih beragama lama. Dan akhirnya serangan dari Girindra Wardhana dari Keling.
[6] Sekarang Laut Muria sudah merupakan dataran rendah yang dialiri Sungai Lusi.
[7] Pati Unus terkenal juga dengan nama Pangeran Sabrang Lor
[8] Adiwijoyo lebih dikenal dengan nama Joko Tingkir, Ia adalah seorang menantu Sultan Trenggana, dengan berkuasa di Pajang (Daerah Boyolali).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar