Senin, 19 November 2012

Masjid dalam Tata Kota Banten



Kota Banten awalnya adalah sebuah pelabuhan kecil di muara sungai Cibanten. Pelabuhan ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Hindu Pajajaran dengan Pakuan sebagai ibu kotanya (kira-kira letaknya di daerah Bogor sekarang) sejak awal abad ke-16 pelabuhan Banten merupakan salah satu pelabuhan besar Kerajaan Pajajaran setelah Sunda Kelapa yang ramai dikunjungi para pedagang asing. Tradisi tutur menyebutkan bahwa ketika Islam masuk ke tanah Banten, Kerajaan Pajajaran hanya dikendalikan oleh seorang bupati dan sudah tidak diperintah oleh seorang raja lagi. Pucuk Umum, putra Prabu Seda adalah penguasa terakhir dari Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Banten Girang. Setelah mengalami kekalahan dari tentara Islam. Pucuk umum ”menghilang”. Roda pemerintahan oleh penguasa Islam dibawah pimpinan Sunan Gunung Jati dan anaknya Maulana Hasanuddin.
Pengambil alih pusat Kerajaan Banten Girang (sekitar 3km dari pusat Kota Serang sekarang) oleh tentara Islam menjadi awal mula berkembangnya kebudayaan Islam di Banten. Pusat kerajaan yang semula berada di Banten Girang, dipindahkan ke muara Cibanten, sekitar 13 Km dari Banten Girang (Michrob, 1993:46).
Pemindahan ibu kota Banten didasarkan atas beberapa pertimbangan:
1.      secara politik, memudahkan hubungan antara pesisir utara Jawa dengan pesisir Sumatera melalui Sunda Kelapa
2.      secara Ekonomi, berdasarkan pada potensi maritimnya, Banten berpotensi sebagai pelabuhan besar yang dapat menggantikan Sunda Kelapa.
3.      secara mistis religius, kota dan keraton yang telah ditaklukan harus ditinggalkan, karena dianggap sudah tidak memiliki kekuatan magis lagi (Michrob, 1993:46).
Pengembangan kota Banten diserahkan kepada Maulana Hasanuddin. Atas petunjuk orangtuanya Maulana Hasanuddin membangun pusat Kerajaan Banten dengan mendirikan Keraton Surosowan, kemudian dilanjutkan dengan mendirikan Masjid Agung Banten disebelah alun-alun. Berita lain menyebutkan bahwa Masjid Pacinan Tinggi juga dibangun pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin (Juliadi, 2007:23).
Konsep kota yang dibangun oleh Maulana Hasanuddin di pesisir pantai Teluk Banten pada masa itu merupakan konsep kota Islam klasik dengan ciri kehadiran tiga unsur utama arsitektur kota, yaitu: masjid, istana, dan alun-alun. Di alun-alun diselenggarakan sejumlah kegiatan seperti pertemuan dewan kerajaan, sidang pengadilan dan kegiatan publik lainnya. Di pagi hari alun-alun digunakan sebagai pasar.
Konsep kota Islam Banten menunjukkan beberapa persamaan dengan kota Madinah. Kota Madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad merupakan konsep kota Islam klasik dan tertua yang dibangun atas dasar konsep umah dalam tata kota ukhuwah Islamiyah (Juliadi, 2007:24).
Pada perkembangan berikutnya di Banten, ciri utama kota Islam mengalami evolusi secara bertahap, disatukan bentuk dinding pelindung dengan masjid utama (Masjid Agung atau Jami’) dan madrasah (tempat belajar) yang berfungsi sebagai pusat-pusat keagamaan dan politik masyarakat, dan suq (pasar) sebagai pusat niaga dan kehidupan sosial. Struktur pola perkotaan seperti didasari oleh hirarki terkendali atas jalur pola jalan, ruang, dan bangunan. Beberapa bangunan yang teridentifikasi sebagai ciri utama kota Islam pada tingkat ini adalah kehadiran unsur-unsur arsitektur masjid, lembaga pendidikan, istana, pasar, tembok pertahanan, lapangan, bangunan audiensi, pelabuhan, dan sebagainya. Komposisi etnik penduduk kota juga semakin beragam akibat meningkatnya aktivitas perdagangan regional maupun internasional.
Berdasarkan konsep tata kota Islam maupun tata kota pra-Islam di Asia Tenggara, maka satu hal yang menjadi ciri utama penempatan bangunan keagamaan di pusat kota. Dalam konsep kota pra-Islam, kuil atau candi adalah pusat keagamaannya, sedangkan Masjid Jami’ atau Masjid Agung sebagai pusat keagamaan Islam diintegrasikan ke dalam jaringan perkotaan Islam. Masjid Agung salah satu perwujudan paling penting dalam masyarakat Islam, mensyaratkan penempatan utama di dalam kota. Pengarahan kiblat (orientasi) senantiasa ke ka’bah di Mekkah sebagai politik, agama, dan intelektual, kedudukannya mempengaruhi lokasi pusat niaga. Keberadaan sejajar antara fasilitas keagamaan dan niaga mengingatkan kita pada kota-kota abad peretengahan di Eropa, dimana pasar dan lapangan katedral terletak saling berdekatan(Juliadi, 2007:24).


2.1.1 Banten Lama
Memasuki pintu gerbang situs Banten Lama di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten. Ratusan bahkan Ribuan terdapat banyak orang di Kompleks Masjid Agung Banten Lama. Karena Kompleks peninggalan Kesultanan Islam Banten ini memang lebih dikenal sebagai tempat berziarah. Kompleks Banten Lama ini menyimpan banyak cerita sejarah. Apabila mengingat mengenai Banten lama tersebut maka dibenak adalah masa di mana Kesultanan Banten mengalami kejayaan pada abad XVI-XVIII Masehi.
Sisa bangunan tua mulai terlihat menyembul di antara rumpun padi. Bangunan itu merupakan sisa gapura Gedong Ijo, tempat tinggal para perwira kerajaan. Kemudian beberapa meter dari gerbang, puing-puing reruntuhan bangunan besar mulai terlihat. Itulah Keraton Surosowan, kediaman para sultan Banten, dari Sultan Maulana Hasanudin pada tahun 1552 hingga Sultan Haji yang memerintah pada 1672-1687.
Semula, bangunan keraton yang seluas hampir 4 hektar itu bernama Kedaton Pakuwan. Terbuat dari tumpukan batu bata merah dan batu karang, dengan ubin berbentuk belah ketupat berwarna merah. Sisa bangunan yang kini masih bisa dinikmati adalah benteng setinggi 0,5-2 meter yang mengelilingi keraton dan sisa fondasi ruangan. Sisa pintu masuk utama di sisi utara kini tinggal tumpukan batu bata merah dan bongkahan batu karang yang menghitam. (Lihat foto 2)
Bangunan kolam persegi empat di tengah keraton merupakan pemandangan lain yang ada di dalam benteng. Menurut catatan sejarah, puing itu merupakan bekas kolam Rara Denok, pemandian para putri. Kemudian di bagian belakang atau di sisi selatan, terlihat pula sisa bangunan berbentuk kolam menempel pada benteng. Dahulu, kolam itu digunakan sebagai pemandian pria-pria kerajaan, yang disebut Pancuran Mas (http:// www.kompas.com, diakses pada tanggal 28 Februari 2011).(Lihat foto 3)
Air yang dialirkan ke kolam Rara Denok dan Pancuran Mas berasal dari mata air Tasik Ardi, sebuah danau buatan yang berjarak sekitar 2,5 kilometer di sebelah selatan atau tepatnya barat daya keraton. Disalurkan ke keraton dengan menggunakan pipa yang terbuat dari tanah liat. Sebelum masuk keraton, air dari Tasik Ardi harus melalui tiga kali proses penyaringan. Bangunan penyaringan itu disebut Pangindelan Abang, Pangindelan Putih, dan Pangindelan Mas.
 Saat ini lokasi Tasik Ardi masuk dalam wilayah Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, yang dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi. Sementara itu, tiga bangunan pangindelan masih bisa dilihat di Jalan Purbakala, antara Keraton Surosowan dan Tasik Ardi. Sayangnya, sekarang jalan ini hanya bisa dilintasi sepeda karena warga masih menggunakan tempat itu sebagai jalan air di tengah persawahan.
Di sudut sebelah barat terlihat sebuah bangunan menyerupai cincin. Tempat itu disebut ruang Pasepen, yang digunakan sebagai tempat sultan beribadah. Bangunan keraton ini pertama kali dihancurkan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada 1680. Keraton dibumihanguskan saat Kesultanan Banten berperang melawan penjajah Belanda.
Simbol kebesaran kerajaan Islam Banten itu kembali dihancurkan pada 1813. Ketika itu, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Herman Daendels memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan keraton karena Sultan Rafiudin (sultan terakhir Kerajaan Banten) tak mau tunduk pada perintah Belanda.
Reruntuhan bangunan keraton juga terlihat di bagian selatan Keraton Surosowan. Pada bagian depan terpancang papan bertuliskan ”Situs Keraton Kaibon”, dengan luas sekitar 2 hektar. Keraton ini dibangun pada 1815 sebagai tempat tinggal Ratu Aisyah, ibu Sultan Muhammad Rafiuddin yang menjabat sebagai pemimpin pemerintahan karena putranya masih berusia lima tahun. (Lihat foto 3)
Bangunan bersejarah lain yang bisa dinikmati adalah Jembatan Rante, yang terletak di depan Keraton Surosowan, tepatnya di sebelah utara Masjid Agung Banten Lama. Jembatan hidraulis itu berdiri di atas kanal yang saat ini sudah menyempit dan berubah fungsi menjadi kubangan air.
Dahulu Jembatan Rante digunakan sebagai tempat pemeriksaan kapal-kapal yang keluar-masuk keraton. Jembatan ini akan terangkat jika ada kapal yang lewat dan akan kembali rata setelah kapal berlalu.
Salah satu bangunan yang masih berdiri kokoh adalah Masjid Agung Banten Lama, berikut menara setinggi 23 meter. Masjid inilah yang paling terkenal di Situs Banten Lama dan selalu penuh sesak oleh para peziarah, terutama pada peringatan hari-hari besar Islam. (Lihat foto 11)


2.1.2 Sejarah Masjid Banten
Masjid Agung Banten termasuk masjid tua yang penuh nilai sejarah. Setiap harinya masjid ini ramai dikunjungi para peziarah yang datang tak hanya dari Banten dan Jawa Barat, tapi juga dari berbagai daerah di Pulau Jawa (http://id.wikipedia.org, diakses pada tanggal 28 Februari 2011).
Masjid Agung Banten terletak di Kompleks bangunan masjid di Desa Banten Lama, sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang. Masjid ini dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama Kasultanan Demak. Ia adalah putra pertama Sunan Gunung Jati. (Lihat foto 1)
Meskipun telah berumur lebih dari 4 abad (didirikan pada kisaran tahun 1560-1570), nampak masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik. Seperti juga mesjid-mesjid lainnya, bangunan induk mesjid berdenah segi empat. Atapnya merupakan atap bersusun lima dengan bagian kiri dan kanannya terdapat masing-masing serambi. Agaknya serambi ini dibangun pada waktu kemudian. Di dalam serambi kiri, yang merupakan bagian utara dari mesjid, terdapat makam-makam dari beberapa sultan Banten dan keluarganya, diantaranya makam Maulana Hasanuddin dan isterinya, Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Abu Nashr Abdul Qahhar. (Lihat foto 10). Sedangkan di dalam serambi kanan, yang terletak di selatan, terdapat pula makam-makam Sultan Maulana Muhammad, Sultan Zainul 'Abidin dan lain-lainnya. Pada bagian tangga pada masdjid itu memiliki model menyerupai goa, yang menurut sejarah pembangunannya dilakukan atas bantuan seorang arsitektur asal Mongolia bernama Cek Ban Cut. (Lihat foto 9).
Berdirinya Masjid Agung Banten tidak lepas dari tradisi masa lalu, di mana dalam sebuah kota Islam terdapat minimal 4 komponen. Pertama, ada istana sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal raja-raja. Kedua, Masjid Agung sebagai pusat peribadatan. Ketiga, ada alun-alun sebagai pusat kegiatan dan informasi. Keempat, ada pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi. Keempat komponen ini, jejaknya masih terdapat di Desa Banten Lama Kecamatan Kasemen Kabupaten Serang. Tapi yang masih kokoh berdiri dan berfungsi hingga saat ini hanya Masjid Agung Banten.
Masjid Agung Banten, sebagaimana masjid tua dan bersejarah lainnya, selalu diramaikan para peziarah yang bisa mencapai ribuan orang dari berbagai daerah di Jawa umumnya. Sering kali jumlah mereka mencapai puncaknya pada bulan Syawal, Haji, Maulud, Rajab dan Ruwah. Sementara setiap hari Kamis, Jumat dan Minggu juga menjadi hari pilihan bagi para peziarah untuk mengunjungi Masjid Banten.
Bangunan masjid yang terletak sekira 10 km sebelah utara Kota Serang ini merupakan peninggalan Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), putera pertama Sunan Gunung Jati. Konon, pembangunan Masjid Agung Banten bermula dari instruksi Sunan Gunung Jati kepada Hasanuddin untuk mencari sebidang tanah yang masih suci untuk pembangunan Kerajaan Banten. Hasanuddin lalu shalat dan bermunajat kepada Allah agar diberi petunjuk tentang tanah yang dimaksud ayahandanya. Setelah berdo’a, spontanitas air laut yang berada di sekitarnya menyibak menjadi daratan. Selanjutnya, Hasanuddin mulai mendirikan Kerajaan Banten beserta komponen-komponen lainnya, seperti alun-alun, pasar dan masjid agung

Peran ABRI Sebagai Kekuatan Sosial Politik Pada Masa Orde Baru (1966-1997).


Bangsa Indonesia menyadari bahwa TNI yang terbentuk dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat mempunyai arti penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. ABRI lahir dan dibentuk oleh rakyat Indonesia ditengah-tengah perjuangan nasional dalam merebut kemerdekaan dari penjajahan bangsa asing. ABRI lahir sebagai pejuang dan kemudian sebagai prajurit, bertekad untuk hidup dan mati dengan negara proklamasi 17 Agustus 1945 yang berdasarkan Pancasila sehingga keselamatan bangsa dan negara merupakan tugas dan tanggung jawab ABRI. Sesuai dengan latar belakang yaitu Peran ABRI Sebagai Kekuatan Sosial Politik pada Masa Orde Baru (1966-1997), maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejrah terbentuknya ABRI, perkembangan Dwifungsi ABRI, dan peran ABRI dalam bidang sosial politik pada masa Orde Baru. Manfaat penelitian ini adalah menambah pengetahuan dan wawasan tentang sejarah ABRI, mengetahui perkembangan Dwifungsi ABRI, mengetahui peran ABRI dalam bidang sosial politik pada masa Orde Baru. Dalam mengkaji permasalahan dalam penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian historis dengan tahap-tahap yaitu heuristik, kritik sumber, intepretasi, dan historiografi. Sedangkan yang menjadi sumber dalam penelitian ini adalah sumber kepustakaan. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa sejarah perkembangan ABRI berawal dari lahirnya Badan Keamanan Rakyat (BKR) tanggal 22 Agustus 1945. Kemudian menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada tanggal 5 Oktober 1945, diubah lagi namanya menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Tanggal 26 Januari 1946, TKR diubah menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dan tanggal 3 Juni 1947 TRI diubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Istilah ABRI lahir ketika penyatuan angkatanangkatan dan kepolisian kedalam satu wadah melalui sebuah Surat Keputusan Presiden No. 225/Plt Tahun 1962. Perkembangan Dwifungsi ABRI diawali dengan banyaknya kekosongan dalam pemerintahan sipil pasca proklamasi kemerdekaan, sehingga dari inisiatif para pemimpin militer pada saat itu diusulkan untuk diisi oleh golongan militer. Kemudian rapuhnya pemerintahan sipil dibawah Presiden Soekarno dalam menyikapi perubahan cara pandang golongan militer sehingga terjadi ketidaksesuaian pendapat antara golongan pemerintah dengan golongan militer. Puncaknya pada masa Orde Baru, peran tersebut mendapat legitimasi dan legalisasi menjadi pedoman dan langkah bagi militer untuk terjun dalam bidang diluar militer seperti ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya. Peran sosial politik ABRI salah satunya dalam bidang ideologi adalah dengan memasyarakatkan pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila (P-4). Namun peranan tersebut tidak seluruhnya diamalkan dan dijalankan oleh semua prajurit ABRI. Namun sebagian tidak mendapatkan kesempatan yang lebih maupun hanya menjalankan tugas seharihari sebagai seorang prajurit yang patuh pada atasan. Saran yang penulis ingin sampaikan kepada para pembaca adalah agar menjadi tambahan wawasan, pengetahuan, dan informasi yang bersifat kepustakaan mengenai Peran ABRI Sebagai Kekuatan Sosial Politik pada Masa Orde Baru (1966-1997). Bagi para mahasiswa diharapkan dapat menjadi tumpuan dalam mengontrol jalannya reformasi yang sedang digalakkan ditubuh ABRI sehingga menempatkan golongan militer pada peran dan fungsinya sebagaimana mestinya yaitu mengawal bangsa dan negara mewujudkan reformasi total dan mempertehankan keamanan negara.

seni dan arsitektur peradaban mesopotamia



Mesopotamia Seni dan Arsitektur, seni dan bangunan dari peradaban kuno Timur Tengah yang berkembang di daerah (sekarang Irak) antara sungai Tigris dan Efrat dari prasejarah abad ke-6SM. Bagian bawah kawasan Mesopotamia meliputi dataran subur, namun penduduknya terus-menerus menghadapi bahaya penyerbu luar, ekstrem pada suhu, kekeringan, badai kekerasan dan badai hujan, banjir, dan serangan binatang buas. seni mereka baik mencerminkan cinta dan takut kekuatan-kekuatan alam, serta penaklukan militer mereka. Menghiasi dataran menjadi pusat perkotaan; masing-masing didominasi oleh sebuah kuil, yang baik komersial dan pusat keagamaan, tetapi secara bertahap mengambil alih istana sebagai struktur yang lebih penting. Tanah Mesopotamia menghasilkan bangunan utama peradaban materi-bata Lumpur. Bangunan paling terkenal dan penting di kota Sumeria adalah kuil yang didedikasikan untuk para dewa dan dewi kota. The temple was called a ziggurat and was built atop a massive stepped towerCandi yang disebut Ziggurat dan dibangun di atas sebuah menara besar melangkah. Perumahan dibangundengan batu bata jemuran. A small portion of buildings were made by stone or woodSebagian kecil bangunan yang dibuat oleh batu atau kayu.
Housing were built by sun-dried bricksTanah liat ini juga digunakan oleh mereka Mesopotamians untuk gerabah, patung terra-cotta, dan tablet menulis. Beberapa artefak kayu telah diawetkan. Batu langka, dan jenis tertentu harus diimpor, basal, batu pasir, diorit, dan alabaster digunakan untuk patung. Logam seperti perunggu, tembaga, emas, dan perak, serta kerang dan batu mulia, digunakan untuk patung terbaik dan inlays. Batu dari segala jenis termasuk lapis lazuli, yaspis, akik, pualam, hematit, serpentine, dan steatit-digunakan untuk stempel silinder (Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved).
Seni tradisi Mesopotamia mengungkapkan tahun 4000-yang muncul, di permukaan, homogen dalam gaya dan ikonografi. Buku itu diciptakan dan dipertahankan, namun, oleh gelombang menyerang masyarakat yang berbeda secara etnis dan bahasa. Masing-masing kelompok membuat kontribusi dalam seni sampai penaklukan Persia dari abad ke-6 SM. Orang-orang yang dominan pertama untuk mengendalikan wilayah dan bentuk seni tersebut adalah non-Semit Sumeria, diikuti oleh Akkadians Semit, Babilonia, dan Asiria. Pengendalian dan pengaruh artistik pada kali diperpanjang ke pantai Siro-Palestina, dan teknik dan motif dari daerah-daerah terpencil berdampak pada pusat Mesopotamia. Seperti orang lain menginvasi daerah ini, seni mereka dibentuk oleh tradisi Mesopotamia asli.

Letak geografi Lembah Sungai Eufrat dan Tigris



Mesopotamia terletak di antara dua sungai besar, Eufrat dan Tigris. Daerah yang kini menjadi Republik Irak itu di zaman dahulu disebut Mesopotamia, yang dalam bahasa Yunani berarti "(daerah) di antara sungai-sungai". Entah sejak kapan nama itu dipakai untuk menyebut daerah itu. Namun, para penulis Yunani dan Latin kuno, seperti Polybius (abad 2 SM) dan Strabo (60 SM-20 M), sudah menggunakannya (http://www.geofacts.co.cc, diakses pada 2 september 2010). Karena daerah disekitar kedua sungai itu tanahnya sangat subur dan melengkung seperti bulan sabit sehingga sejarawan dari Amerika Serikat yaitu Breasted menyebut Mesopotamia adalah “The Fertile Crescent Moon” (daerah bulan sabit yang subur). Sedangkan sejarawan dari Yunani Kuno bernama Herodotus menyebut Mesopotamia sebagai “Tanah Surga yang Cantik jelita”. Dan adapun asal Mesopotamia adalah (Mezo berarti tengah, potamus berarti sungai). Terletak di Asia Barat Daya, yang berbatasan dengan (http://neovan. Topicites.com/, diakses 2 september 2010):
*      Teluk Persia dan Iran sebelah Timur dan Timur Laut
*      Iran dan Turki, sebelah Utara
*      Sirya dan Yordania, disebelah Barat
*     



Saudi Arabia dan Kuwait, disebelah Selatan
Gambar 2: daerah mesopotamia seperti bulan sabit
Sejarah dan budaya peradaban Mesopotamia yang erat dihubungkan dengan pasang surut dan aliran Sungai Tigris dan Efrat. Komunitas awal dikembangkan untuk utara tetapi karena curah hujan di daerah yang begitu tak terduga, oleh 5000 SM masyarakat telah menyebar ke selatan dataran aluvial kaya. Ekonomi masyarakat ini terutama pertanian dan sekitar 100-200 orang tinggal di desa ini didirikan secara permanen. Dataran aluvial di selatan Mesopotamia ("tanah antara sungai-sungai") jauh lebih subur dari utara tapi karena ada sedikit curah hujan, saluran irigasi harus dibangun. Selain itu, tempat tidur sungai dari dan Tigris dan Efrat naik turun dengan musim dan mereka mengubah arah mereka tak terduga juga. Southern Mesopotamia memiliki pangsa banjir bandang yang bisa menghancurkan, ternak dan desa rumah tanaman. Banjir dan hujan lebat adalah tema penting dalam sastra Mesopotamia seperti yang digambarkan dalam Epos Gilgames (http://www.historyguide.org, diakses pada tanggal 25 November 2010).
 Banjir merajalela yang tidak ada seorangpun dapat menentang,
Yang getar langit dan menyebabkan bumi gemetar,
Dalam selimut mengerikan lipatan ibu dan anak,
Beats turun penuh kehijauan's canebrake mewah tersebut,
Dan tenggelam panen di waktu kematangan.
Rising perairan, pedih mata manusia,
Semua kuat banjir, yang memaksa tanggul
Dan mows pohon besar,
badai gila-gilaan, merobek segala sesuatu berkumpul kebingungan
Dengan itu dalam melemparkan kecepatan.
Tigris dan Eufrat aliran selatan dari Turki, mereka adalah 400 km (250 mil) terpisah; Eufrat berjalan selatan dan timur untuk 1.300 km (800 mil) dan Tigris mengalir ke selatan untuk 885 km (550 mil) sebelum mereka bergabung, mencapai Teluk Persia sebagai Shatt al Arab. lembah-lembah sungai dan dataran Mesopotamia adalah terbuka untuk menyerang dari sungai-sungai, perbukitan utara dan timur, dan Gurun Arab dan padang rumput di sebelah barat Suriah (Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved).
Sumber air kedua batang sungai terdapat dilereng pegunungan di Armenia, diperbatasan antara Irak dan Rusia sekarang. Lumpur endapannya bertumpuk-tumpuk pada muaranya, menjadi munculnya dataran rendah baru yang seluas meluas menutup mulut teluk Bahrein di tepi teluk besar Parsi (Daldjoeni, N. 1982: 66).

Dualisme Struktur Sosial Minangkabau

Dalam mengskemakan struktur sosial masyarakat Indonesia. Levi Strauss menunjukkan bahwa struktur sosial Indonesia sedikit lebih komplek dibandingkan dengan struktur sosial yang dimiliki masyarakat Winnebago maupun masyarakat Omarakana. Kalau dalam masyarakat Winnebago pembagian kelompok hanya berimplikasi pada aturan perkawinan yang dibolehkan dan yang dilarang. Maka dalam struktur sosial Indonesia, larangan perkawinan tidak saja mengatur hubungan antar kelompok, tetapi juga mengatur pembagian di dalam kelompok itu sendiri, yang kemudian berimplikasi pada pola hubungan antar kelompok. Tegasnya dalam struktur sosial Indonesia, kita tidak hanya dihadapkan pada pengelompokan berdasarkan klan, tetapi juga dihadapkan dengan aturan pengelompokan berdasarkan klan, tetapi juga dihadapkan dengan aturan pengelompokan klas-klas perkawinan yang tidak didasarkan pada tempat tinggal (non-residential marriage classes) seperti lihat pada gambar berikut: diagram diatas mengimplikasikan : pertama, adanya dikotomi antar jenis kelamin yang diberlakukan dalam klas-klas ini, dimana antara saudara laki-laki dan saudara perempuan dianggap memiliki perbedaan perlakuan yang mereka terima tentang ikatan perkawinannya baik dari klan mereka sendiri maupun dari keluarga pasangannya. Dalam diagram, fungsi dikotomi ini diekspresikan dengan garis cabang 3 yang membagi setiap kelompok kedalam dua bagian yaitu laki-laki (M) disatu sisi dan perempuan (F) disisi lainnya. Kedua, dalam sistem ini, menempatkan kediaman atau tempat tinggal tidaklah penting, sehingga lingkaran besar bukanlah mempresentasikan desa atau pemukiman, tetapi mempresentasikan kemungkinan-kemungkinan perkawinan antara laki-laki di satu kelompok dengan wanita di kelompok lainnya. Pada diagram diatas juga terlihat bahwa terjadinya sebuah hubungan antara elemen-elemen diametrik (pembagian jenis kelamin dalam klas) berdasarkan oposisi binary dengan elemen-elemen konsentrik (pembegian kelompok yang tidak berdasarkan desa atau pemukan) yang juga bersifat oposisi binari. Skema tentang struktur sosial Indonesia yang dibuat oleh Levi-Strauss diatas ada kecenderungan memiliki argumentasinya pada kasus Minangkabau. Dimana digambarkan bahwa masyarakat Minangkabau sebenarnya terdiri 2 molety yang tercermin dari ke-laras-an yang dimilikinya yaitu laras Koto Pilang dan laras Bodi Caniago, dengan 4 phratri yaitu Koto, Piliang, Bodi dan Chaniago. Dari keempat phratri inilah kemudiaan klan-klan Minangkabau terbentuk dan membelah diri yang kemudian menyebar di daerah luhak maupun di daerah-daerah rantau. Mengikuti pemikiran Levi-Strauss maka gambaran tentang struktur sosial Minangkabau lebih bersifat dualisme yang konsentrik. Hal ini ditunjukkan dengan pola pembagian kelompok yang sifatnya genap namun batas pembagiannya lebih bersifat imaginer. Namun secara implisit, gambaran tersebut juga mengisyaratkan akan sifat triadik dalam masyarakat Minangkabau yang ditunjukkan dengan adanya pembagian 3, seoerti tergambar dengan adanya 3 luhak (Luhak nan Tigo), 3 tokoh masyarakat (Tigo Tungku Sajarangan), 3 pemimpin utama yaitu Raja alam, Raja Ibadat, dan Raja Adat (Raja Tigo Selo), 3 warna bendera (hitam, merah dan kuning), dan sebagainya. Walaupun adanya dikolami yang cenderung berseberangan (bereposisi), namun menurut josselin de jong satu sama lain justru terjalin secara seimban, karena yang satu tidak dapat hidup tanpa keberadaan yang lain, sehingga memunculkan ”perseteruan dalam persatuan” kalau memang benar bahwa dualisme dalam masyarakat Minangkabau lebih mencerminkan sifat triadik, maka mengikuti pemikiran Levi-Strauss, berarti ada elemen ketiga yang menghubungkan antara dua elemen opsisi (dikotomi) yang secara empirik sering muncul dalam masyarakat Minangkabau. Dalam banyak gambaran tentang kajian Minangkabau, 3 Luhak yang ada di masyarakat Minangkabau sebenarnya adanya cerminan dari dua molety (laras) yang ada dalam masyarakatnya, yaitu laras Koto Pilang dan laras Bodi Caniago. Luhak agam mempresentasikan laras Bodi Caniago yang memiliki pola politik demokratis, Luhak 50 kota merepresentasikan Laras Koto piliang yang memiliki pola politik aristokratis, sementara luhak tanah Datar mempresentasikan kedua laras yang ada (laras Koto Pilang dan laras Bodi Caniago). Apabila diasumsikan kedua laras yang ada dioposisikan secara sama, maka secara teoritis menurut Levi Strauss, ada kemungkinan Leras Semu (tersembunyi) yang sifatnya mampu menetralisir pertentangan antara kedua laras tersebut. Munculnya kedua laras dalam masyarakat Minangkabau, tidak bisa dipisahkan dengan kepribadian dan pola kepemimpinan antara dua nenek moyang pendahulu Minangkabau yang akhirnya menciptakan aturan adat (lereh) di masyarakat Minangkabau tersebut, yaitu Perpatih nan Sabatang yang menciptakan lereh Bodi Chaniago dan Datuk Katamenggung yang menciptakan Lereh Koto Piliang. Kalau dua nenek moyang ini dianggap mewakili dua elemen belahan laras yang ada. Akhirnya mampu digambarkan bahwa kedua datuk ini selalu berseberangan, bahkan sampai melakukan ”perang batu”dan ”perang senjata (keris atau bedil)”, tetapi kemudian akhirnya mampu menyatukan dua pertentangan yang ada sehingga terlihat harmoni. Proses pembentukan sebuah nagari ataupun kampung di masyarakat Minangkabau ada keecenderungan sebagai hasil proses yang mewakili dua moiety (laras) yang ada. Akhirnya keberadaan pengelompokan masyarakat dalam nagari ataupun kampung tidak selalu mencerminkan satu laras saja. Disini digambarkan khususnya nagari selalu dibentuk oleh minimal 4 klan, namun keempat klan yang ada kecenderungan mewakili dua molety (laras) yang ada di Minangkabau. Artinya tidak memungkinkan apabila sebuah nagari dihuni oleh 4 klan dari satu laras saja. Namun dalam pandangan dualisme (struktur triadik) di atas adalah hal yang ganjil apabila sebuah nagari terdiri pengelompokan genap(4 klan). Artinya pengelompokan berkemungkinan akan ganjil atau kalaupun genap, berkemungkinan ada ”kelompok semu” yang bersembunyi yang menyelinap dan menetralisir pengelompokan genap ini. Menurut Josselin de Jong, sebuah klan atau klan dalam masyarakat Minangkabau ada kecenderungan tidak terbentuk dari satu phirety saja atau hanya mewakili satu phratry saja. Jadi proses pembentukan klan baru dilakukan dengan cara membelah diri klan awal untuk kemudian memasukkan unsur baru dalam klannya yang berasal dari nilai-nilai klan laki yang beroposisi dengan phratry klannya, misalnya, ketika klan baru terbentuk dari phratry Chaniago, maka klan baru ini ada kecenderungan tidak mewakili sepenuhnya phratry(bisa dari Bodi, dari Koto atau dari Pilang). Bahkan secara tegas Joselin de Jong mengatakan bahwa ada kecenderungan klan baru ini tidak mengambil unsur dari Chaniago tidak memasukkan nilai-nilai dari Phratry Bodi dalam klan barunya, tetapi hanya nilai-nilai dalam phratry Koto atau piliang saja dimasukkan. Salah satu pola yang ditemukan misalnya dengan menggunakan kampung dimana mereka berasal pada awalnya, atau nama kampung dimana kemudian mereka menetap. Klan Kampai misalnya, adalah salah satu belahan dari piliang yang pada awalnya mereka menampakkan diri sebagai Pilliang Kampai yang artinya klan Pilang dari kampung Kampai. Namun kemudian hari nama Pilang dihilangkan sehingga hanya disebut dengan Kampai saja, sehingga mengikut begitu saja dari klan awal yaitu Piliang. Upaya menghilangkan identitas klan awal ini juga dilakukan dengan cara penggabungan dari beberapa klan yang ada. Pola pembentukan klan baru seperti ini menurut Josselin de Jong adalah hal yang biasa dalam masyarakat Minangkabau. Ada kecenderungan, pola seperti ini dilakukan secara sengaja untuk menghilangkan identitas klan awalnya. Upaya menghilangkan identitas awal ini sebagai strategi untuk mendapatkan pengakuan bahwa mereka memang berbeda dengan yang lain, termasuk dengan klan awal sehingga exixtensi klannya sepenuhnya bisa disejajarkan dengan klan awal. Jadi disini akhirnya tidak ada perbedaan antara klan awal dengan klan belahan berikutnya, perbedaan hanya akan ditunjukkan pada pengakuan diri sebagai pendahulu (panruko) disebuah areal. Untuk itu maka dalam tataran empirik hanya sedikit ditemukan sebuah klan yang langsung menyadur nama klan awalnya. Pembelahan klan yang berasal dari 4 phretri (klan awal) yaitu Koto, Piliang, Bodi dan Caruago, kemudian menciptakan nama-nama klan yang cenderung beragam yang dikemudian hari semakin sulit untuk diidentifikasi bahwa mereka berasal dari salah satu phratri yang ada. Hal ini karena kebersamaan antara klan-klan awal yaitu Bodi, dan Chaniago, serta Koto dan Piliang telah cukup akrab dengan pola ini sebelumnya, sehingga secara bertahap mengalami perluasan dalam sejumlah kampuang, sehingga pergantian posisi sering terjadi. Keempat klan ini merasa sebagai kesatuan yang tidak terpisah, sehingga secara otomatis keempatnya dianggap milik bersama walaupun terbelah menjadi dua kelompok berbeda (phratri) inijuga mungkin menjadi alasan, mengapa kampuang menggunakan nama-nama asing yang begitu menyolok, bahkan nama-nama seperti melayu dan Mandailing juga dipakai dalam penamaan kelompok mereka ini adalah penyimpangan namun menyajikan sebuah kenyataan yaitu memanifestasikan ’semua menjadi satu – pertentangan dalam kesetiaan – permusuhan dalam pertemanan’ artinya klan-klan awal (Koto, Piliang, Bodi dan Chaniago) dianggap sebagai milik bersama, sehingga penyatuan antar phratri yang ada semakin memperluas pengelompokan masyarakat ini juga menunjukkan akan perlunya dinamika sebagai salah satu upaya mengatasi dikotomi atau oposisi yang berkembang dalam masyarakat sehingga tidak menjadi disharmoni.