Selasa, 21 Agustus 2012

tersayat

seperti ada luka dalam hatiku tersayat sayat tak ada aturan tersiram dengan air garam yang teramat dalam inginku yang tlah membisu anganku yang dapat ku raih suara-suara lirih yang tlah ku ungkap hanya sebagai pelipurku pelipur lara tapi seperti tamparan yang tak pernah hilang tapi kan senyum dan rindu kan selalu terukir

sayang....

gelora asmara dan kasih sayang yang terpendam ini teramat luar biasa auranya sungguh menusuk hingga ke dalam sanubarihati, menghangatkan hati yang dingin menentramkan hati yang gelisah diriku sungguh menyayangimu mencintaimu... kupersembahkan semua yang ada dalam hati hanya untukmu kekasih... Aku sayang kamu....

forever

Harapan selalu menyertai dalam setiap usaha kan ku selimuti hatimu dengan cintaku agar dirimu selalu tegar agar dirimu tak sendiri susah senang diriku kan selalu disisimu... tuk bersama melewati rintangan hingga esok secerah mentari bersamaku kan ku iringi hatimu agar hampa lenyap tak berbekas dan kan ku tiup kan gelora penyejuk kasih dan semangat agar engkau bisa berlari menatap hari esok tetaplah semangat duhai kasih... karena dirimu tak sendiri....

Panti Asuhan

Menurut Arif Gosita (dalam Suyuti, 2010:37) secara etimologi, panti asuhan berasal dari dua kata yaitu “panti” yang berarti suatu lembaga atau satuan kerja yang merupakan prasarana dan sarana yang memberikan layanan sosial, dan “asuhan’ yang mempunyai arti berbagai upaya yang diberikan kepada anak yang mengalami masalah kelakuan, yang bersifat sementara sebagai pengganti orang tua atau keluarga agar dapat tumbuh dan berkembang dengan wajar baik secara rohani, jasmani, maupun sosial. Menurut Departemen Sosial Republik Indonesia menjelaskan bahwa panti asuhan adalah suatu lembaga usaha kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada anak terlantar, memberikan pelayanan pengganti fisik, mental dan sosial pada anak asuh, sehingga memperoleh kesempatan yang luas, tepat dan memadai begi perkembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian dari generasi penerus cita-cita bangsa dan sebagai insan yang akan turut serta aktif di dalam bidang pembangunan nasional (Suyuti, 2010:37). Dengan demikian pengertian panti asuhan adalah suatu lembaga kesejahteraan sosial yang bertanggungjawab memberikan pelayanan pengganti dalam pemenuhan kebutuhan fisik, mental, dan sosial pada anak asuh. Sehingga memperoleh kesempatan yang luas, tepat, dan memadai bagi perkembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan. Di dalam panti asuhan anak asuh di asuh oleh pengasuh yang tidak ada hubungan darah sama sekali dengan mereka. Dalam Pasal 31-39 diatur bahwa Yayasan Sosial/Panti Asuhan tidak boleh mengasuh anak yang berbeda agama karena konsekuensi hukumnya. Dalam iklim seperti ini telah terjadi berbagai upaya teror berupa pemaksaan untuk menutup suatu institusi yang melakukan pelayanan pengasuhan anak. Pemaksaan untuk menutup panti sosial dan menghentikan pelayanan anak oleh sekelompok masyarakat, serta menjerat pengasuh-pengasuh kesejahteraan anak dengan UU PA, justru merupakan pelanggaran hak anak (Yamin, 2011). Dalam sebuah panti asuhan di dalamnya terdapat anak asuh yang tergolong dari yatim, piatu dan juga anak-anak terlantar. Yang mana diantara mereka yang tidak mampu dalam kehidupannya, sehingga di taruh oleh keluarganya dipanti asuhan. Dalam konteks Indonesia, kata yatim identik dengan anak yang bapaknya meninggal. Sedangkan bila bapak ibunya meninggal, maka anak tersebut disebut dengan anak yatim piatu (Nur, 2009:62). Sedangkan anak-anak terlantar yaitu anak yang tidak mampu dan juga tidak memiliki rumah untuk tempat tinggal menetap dengan layak. Secara bahasa “yatim” berasal dari bahasa arab. Dari fi’il madli “yatama” mudlori’ “yaitamu” dab mashdar ” yatmu” yang berarti : sedih. Atau bermakana : sendiri. Adapun menurut istilah syara’ yang dimaksud dengan anak yatim adalah anak yang ditinggal mati oleh ayahnya sebelum dia baligh. Batas seorang anak disebut yatim adalah ketika anak tersebut telah baligh dan dewasa, berdasarkan sebuah hadits yang menceritakan bahwa Ibnu Abbas r.a. pernah menerima surat dari Najdah bin Amir yang berisi beberapa pertanyaan, salah satunya tentang batasan seorang disebut yatim, Ibnu Abbas menjawab: “Dan kamu bertanya kepada saya tentang anak yatim, kapan terputus predikat yatim itu, sesungguhnya predikat itu putus bila ia sudah baligh dan menjadi dewasa” hadist Riwayat Imam Muslim (Al-Ikhlas, 2011). Sedangkan kata piatu bukan berasal dari bahasa arab, kata ini dalam bahasa Indonesia dinisbatkan kepada anak yang ditinggal mati oleh Ibunya, dan anak yatim-piatu (Al-Ikhlas, 2011). Anak-anak tersebut tidak hanya membutuhkan materi untuk kelangsungan hidup dan biaya pendidikan mereka. Anak yatim (maupun anak piatu, yatim piatu, atupun anak terlantar) juga memerlukan kasih sayang, perhatian, dan cinta dari orang-orang yang peduli pada mereka. Di tengah kehidupan begitu berat yang mereka jalani, sudah bisa dipastikan hal itu akan menyebabkan mereka memerlukan perhatian dan kasih sayang yang lebih (Nur, 2009:87). Secara psoikologis, orang dewasa sekalipun apabila ditinggal ayah atau ibu kandungnya pastilah merasa tergoncang jiwanya, dia akan sedih karena kehilangan salah se-orang yang sangat dekat dalam hidupnya. Orang yang selama ini menyayanginya, memperhatikannya, menghibur dan menasehatinya. Itu orang yang dewasa, coba kita bayangkan kalau itu menimpa anak-anak yang masih kecil, anak yang belum baligh, belum banyak mengerti tentang hidup dan kehidupan, bahkan belum mengerti baik dan buruk suatu perbuatan, tapi ditinggal pergi oleh Bapak atau Ibunya untuk selama-lamanya (Al-Ikhlas, 2011). Dari hal tersebut maka, keluarga sangatlah diperlukan dalam hati para anak didik di panti asuhan. Keluarga yang dapat memberikan kasih sayang, perhatian dan cinta yang diperlukan anak didik di panti asuhan yang mereka butuhkan dan didambakan oleh setiap anak pada umumnya. Keluarga baru yang mereka harapkan untuk memberikan semua itu. Dalam diri anak didik di panti asuhan mereka menemukan suatu keluarga yang begitu menyayanginya adapun arti dari keluarga dalam artian di dunia panti asuhan yaitu keluarga merupakan suatu kesatuan sosial yang diikat oleh adanya saling berhubungan atau interaksi dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya, walaupun diantara mereka tidak terdapat hubungan darah (Sochib, 1998: 17). Kasih sayang yang sangat di dambakan oleh seorang anak, yang selalu memperhatikannya. Kasih sayang memiliki tingkatan khusus, dan dalam Islam menganjurkan kita untuk mengasihi anak yatim, karena Allah telah mempermaklumkan bahwa interaksi yang penuh kasih sayang lebih baik dari pada menjaga diri dari perasaan-perasaan inferioritas, dengki kepada orang lain, dan cacat psikologis, yang mana seluruh hal ini merupakan ‘pengantar’ kepada hal-hal yang lebih berbahaya (Dimas, 2006:85). Adapun keutamaannya anak yatim yaitu dalam al-Quran surat Al-Ma’un: 1-2 yang artinya “Tahukah engau siapakah orang yang mendustakan agama? Mereka itulah orang-orang yang menyia-nyiakan anak yatim”. Hal itu membuktikan bahwa kasih sayang untuk seorang anak yatim atau juga piatu ataupun yatim piatu sangatlah diharapkan oleh seorang anak tersebut dan juga sangat di sukai oleh Allah untuk dapat menyayangi anak seperti itu. Selain itu Rosulullah juga telah menjanjikan pahala yang berlimpah bagi orang yang menanggung beban anak yatim, sebagaimana yang disebutkan dalam Sabda Nabi yang artinya “Saya dan orang yang menanggung beban anak yatim di surga bagaikan dua jari ini”, dengan Beliau mengisyaratkan dua jari tangannya; jari telunjuk dan jari tengah, hadist Riwayat At-Tirmidzi (Dimas, 2006:86).

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Belajar merupakan proses yang menimbulkan terjadinya perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku atau kecapakan. Jadi berhasil tidaknya seseorang dalam proses belajar tergantung dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Menurut Slameto (1993: 54) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat digolongkan dalam dua bagian, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor ekstern adalah faktor yang mempengaruhi hasil belajar yang berasal dari luar diri siswa. Faktor-faktor ekstern itu antara lain : 1. Latar belakang pendidikan orang tua Latar belakang pendidikan orang tua paling mempengaruhi prestasi belajar. Semakin tinggi pendidikan orang tua, maka anak dituntut harus lebih berprestasi dengan berbagai cara dalam pengembangan prestasi belajar anak. 2. Status ekonomi sosial orang tua Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar selain harus terpenuhi kebutuhan pokoknya. Jika anak hidup dalam keluarga yang miskin, kebutuhan pokok anak kurang terpenuhi, akibatnya kesehatan anak terganggu. Akibatnya, belajar anak juga terganggu. 3. Ketersediaan sarana dan prasarana di rumah dan sekolah Sarana dan prasarana mempunyai arti penting dalam pendidikan dan sebagai tempat yang strategis bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sekolah harus mempunyai ruang kelas, ruang guru, perpustakaan, halaman sekolah dan ruang kepala sekolah. Sedangkan di rumah diperlukan tempat belajar dan bermain, agar anak dapat berkeasi sesuai apa yang diinginkan. Semua tujuan untuk memberikan kemudahan pelayanan anak didik 4. Media yang di pakai guru Media digunakan demi kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik tidaknya media yang digunakan dalam pendidikan yang dirancang. Bervariasi potensi yang tersedia melahirkan media yang baik dalam pendidikan yang berlainan untuk setiap sekolah. 5. Kompetensi guru Kompetensi guru adalah cara guru dalam pembelajaran yang dilakukannya terhadap siswa dengan metode atau program tertentu. Metode atau program disusun untuk dijalankan demi kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik tidaknya program pendidikan yang dirancang. Bervariasi potensi yang tersedia melahirkan metode pendidikan yang berlainan untuk setiap sekolah. Faktor Intern adalah faktor yang mempengaruhi pretasi belajar yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor-faktor intern itu antara lain : 1. Kesehatan Kesehatan jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar. Siswa yang kesehatannya baik akan lebih mudah dalam belajar dibandingkan dengan siswa yang kondisi kesehatannya kurang baik, sehingga hasil belajarnya juga akan lebih baik. 2. Kecerdasan / intelegensia Kecerdasan/intelegensia besar pengaruhnya dalam menentukan seseorang dalam mencapai keberhasilan. Seseorang yang memiliki intelegensi yang tinggi akan lebih cepat dalam menghadapi dan memecahkan masalah, dibandingkan dengan orang yang memiliki intelegensi rendah. Dengan demikian intelegensi memegang peranan dalam keberhasilan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Demikian pula dalam prestasi belajar. Siswa yang memiliki tinggi, prestasi belajarnya juga akan tinggi, sementara siswa yang memiliki intelegensia rendah maka prestasi yang diperoleh juga akan rendah. 3. Cara belajar Cara belajar seseorang mempengaruhi pencapaian hasil belajarnya. Belajar tanpa memperhatikan teknik dan faktor fisiologis, psikologis dan ilmu kesehatan akan memperoleh hasil yang kurang memuaskan. 4. Bakat Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Siswa yang belajar sesuai dengan bakatnya akan lebih berhasil dibandingkan dengan orang yang belajar di luar bakatnya. 5. Minat Seorang siswa yang belajar dengan minat yang tinggi maka hasil yang akan dicapai lebih baik dibandingkan dengan siswa yang kurang berminat dalam belajar. 6. Motivasi Motivasi sebagai faktor intern berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Dengan adanya motivasi maka siswa akan memiliki prestasi yang baik, begitu pula sebaliknya.

pengertian Hasil Belajar

Hasil Belajar Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat menyusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu (techonly13: 2011). Menurut Djamarah(dalam zhalabe, 2011), hasil adalah prestasi dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individu maupun kelompok. Hasil tidak akan pernah dihasilkan selama orang tidak melakukan sesuatu. Untuk menghasilkan sebuah prestasi dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang sangat besar. Hanya dengan keuletan, sungguh–sungguh, kemauan yang tinggi dan rasa optimisme dirilah yang mampu untuk mancapainya. Sementara itu,Arikunto (dalam zhalabe, 2011), mengatakan bahwa hasil belajar adalah hasil akhir setelah mengalami proses belajar, perubahan itu tampak dalam perbuatan yang dapat diaamati, dan dapat diukur”. Nasution (dalam zhalabe, 2011) mengemukakan bahwa hasil adalah suatu perubahan pada diri individu. Perubahan yang dimaksud tidak halnya perubahan pengetahuan, tetapi juga meliputi perubahan kecakapan, sikap, pengertian, dan penghargaan diri pada individu tersebut. Menurut Rusyan (2000:65) berpendapat bahwa Hasil belajar merupakan hasil yang dicapai oleh seorang siswa setelah ia melakukan kegiatan belajar mengajar tertentu atau setelah ia menerima pengajaran dari seorang guru pada suatu saat. Menurut aliran psikologi kognitif memandang hasil belajar (Rosyada, 2004:92) adalah mengembangkan berbagai strategi untuk mencatat dan memperoleh informasi, siswa harus aktif menemukan informasi-informasi tersebut dan guru menjadi partner siswa dalam proses penemuan berbagai informasi dan makna-makna dari informasi yang diperolehnya dalam pelajaran yang dibahas dan dikaji bersama. Dari pendapat diatas maka dapat dikatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Individu yang belajar akan memperoleh hasil dari apa yang telah dipelajari selama proses belajar itu. Hasil belajar yaitu suatu perubahan yang terjadi pada individu yang belajar, bukan hanya perubahan mengenai pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk kecakapan, kebiasaan, pengertian, penguasaan, dan penghargaan dalam diri seseorang yang belajar. Hasil belajar yang dicapai siswa melalui proses belajar mengajar yang optimal cenderung menunjukan hasil yang berciri sebagai berikut (Zhalabe:2011): 1. Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi pada diri siswa 2. Menambah keyakinan akan kemampuan dirinya. 3. Hasil belajar yang dicapai bermakna bagi dirinya seperti akan tahan lama diingatannya, membentuk prilakunya, bemanfat untuk mempelajarai aspek lain, dapat digunakan sebagai alat untuk memperoleh informasi dan pengetahuan yang lainnya. 4. Kemampuan siswa untuk mengontrol atau menilai dan mengendalikan dirinya terutaman dalam menilai hasil yang dicapainya maupun menilai dan mengendalikan proses dan usaha belajarnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi Hasil belajar yaitu (techonly13: 2011): 1. Faktor Internal (dari dalam individu yang belajar). Faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar ini lebih ditekankan pada faktor dari dalam individu yang belajar. Adapun faktor yang mempengaruhi kegiatan tersebut adalah faktor psikologis, antara lain yaitu : motivasi, perhatian, pengamatan, tanggapan dan lain sebagainya. 2. Faktor Eksternal (dari luar individu yang belajar). Pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan belajar yang kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan faktor dari luar siswa. Adapun faktor yang mempengaruhi adalah mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan, dan pembentukan sikap. Menurut Nana Sudjana (dalam techonly13: 2011)Hasil belajar yang diperoleh siswa adalah sebagai akibat dari proses belajar yang dilakukan oleh siswa, harus semakin tinggi hasil belajar yang diperoleh siswa. Proses belajar merupakan penunjang hasil belajar yang dicapai siswa.

pengertian belajar

Belajar Pendidikan sangatlah penting untuk menunjang masa depan, dalam pendidikan tak pernah luput dengan istilah yang disebut belajar, istilah belajar yang dapat juga diartikan sebagai berubah, berubah dalam artian perilaku, baik fisik maupun mental. Dengan demikian, telah terjadi proses belajar bila siswa menunjukkan tingkah laku yang tidak sama. Proses belajar adalah suatu perubahan yang relative tetap dalam persediaan tigkah laku, yang terjadi sebagai hasil pengalaman. Pendidikan berintikan interaksi antara pendidik dengan peserta didik dalam upaya membantu peserta didik menguasai tujuan-tujuan pendidikan. Interaksi pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah, ataupun masyarakat. Dalam lingkungan keluarga, interaksi pendidikan terjadi antara orang tua/ pendidik sebagai pendidik anak didik dan anak sebagai peserta didik. Interaksi ini berjalan tanpa rencana tertulis (Sukmadinata, 2008:1). Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam menentukan kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku (Slameto, 2003:2). Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah obyek terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa yang memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari oleh siswa berupa keadaan alam, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, atau hal-hal yang dijadikan bahan belajar (Dimyati 2002: 7). Menurut Hamalik (2003:52) bahwa belajar adalah modifikasi untuk memperkuat tingkah laku melalui pengalaman dan latihan serta suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya. Belajar merupakan berusaha memperoleh perubahan tingkah laku melalui kegiatan, latihan dan pengalaman. Perubahan tingah laku berarti pemerolehan tingkah laku yang baru, misalnya saja dari tidak mengerti menjadi mengerti, sehingga timbullah pengertian baru. Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003:2). Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang banyak sekali baik sifat mauoun jenisnya karena itu sudah tentu tidak setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar (Slameto, 2003:2). Siswa dalam mengalami sendiri proses dari tidak tahu menjadi tahu, karena itu menurut Cronbach (dalam Hidayat, 2010:23) yaitu belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan dalam mengalami itu pelajar mempergunakan pancainderanya. Pancaindera tidak terbatas hanya indera penglihatan saja, tetapi juga berlaku bagi indera yang lain. Menurut Hilgard dan Bower (dalam Purwanto, 2002:82) mengemukakan: Belajar berhubungan dengan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulangulang dalam situasi ini, dimana perubahan tingkah laku tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan, respon pembawaan, kematangan atau keadaan-keadaan sesaat seseorang. Berikut ini adalah pengertian dan definisi belajar menurut beberapa ahli, (Indahf, 2011): Nasution “Belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan”, Ernest H. Hilgard “Belajar adalah dapat melakukan sesuatu yang dilakukan sebelum ia belajar atau bila kelakuannya berubah sehingga lain caranya menghadapi sesuatu situasi daripada sebelum itu”, Oemar H “Belajar adalah bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara berperilaku yang baru berkat pengalaman dan latihan”,Winkel “Belajar adalah suatu aktivitas mental / psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilakn perubahan - perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan sikap-sikap”, Noehi Nasution “Belajar adalah suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil terbentuknya respon utama, dengan syarat bahwa perubahan atau munculnya perilaku baru itu bukan disebabkan oleh adanya kematangan atau adanya perubahan sementara karena suatu hal”. Dari definisi yang dikemukakan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar adalah merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar dan kontinyu pada seseorang hingga akan mengalami perubahan tingkah laku secara keseluruhan, artinya perubahan yang senantiasa bertambah baik, baik itu keterampilannya, kemampuannya ataupun sikapnya sebagai hasil belajar. Maka belajar adalah suatu proses usaha untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang bersifat permanen, melalui proses latihan dan pengalaman. Adapun ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar yaitu (Slameto, 2003:3-4): 1. Perubahan terjadi secara sadar Ini berarti bahwa seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya ia merasakan telah terjadi adanya perubahan dalam dirinya. Misalnya ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah, kecakapannya bertambah, kebiasaannya bertambah, kecakapannya bertambah, kebasaannya bertambah. Jadi oerubahan tingkah laku yang terjadi karena mabuj atau dalam keadaan tidak sadar, tidak termasuk perubahan dalam pengertian belajar, karena orang yang bersangkutan tidak menyadari akan perubahan itu. 2. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara berkesinambungan, tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya. 3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memmperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian makin banyak usaha belajaritu dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu todak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu sendiri. 4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara Perubahan yang bersifat sementara atau temporer terjadi hanya untuk beberapa saat saja, seperti berkeringat, keluar air mata, bersin, menangis, dan sebagainya, tidak dapat digolongkan sebagai perubahan dalam arti belajar. Perubahan yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap. Misalnya kecakapan seorang anak dalam memainkan piano setelah belajar, tidak akan hilang begitu saja melainkan akan terus dimiliki bahkan akan makin berkembang kalau terus dipergunakan atau dilatih. 5. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi arena ada tujuan yang akan dicapai. Perbuatan belajar terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar dusadari. Misalnya apa yang mungkin dapat dicapai dengan belajar mengetik, atau tingkat kecakapan mana yang akan dicapainya. Dengan demikian perbuatan belajar yang dilakukan senantiasa terarah kepada tingkah laku yang telah ditetapkannya. 6. Perubahan seluruh aspek tingkah laku Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya. Menurut Crow (dalam Sochib, 1998: 21), pada awal proses belajar perlu ada upaya orang tua atau pendidik. Hal ini dapat dilakukan dengan cara 1. Melatih, 2. Membiasakan diri berperilaku sesuai dengan nilai-nilai berdasarkan acuan moral. Jika anak terlatih dan terbiasa berperilaku sesuai dengan nilai-nilai moral maka, 3. Perlu adanya kontrol orang tua atau pendidik untuk mengembangkannya. Secara garis besar ada 2 faktor penyebab anak menjadi malas belajar, yakni faktor interinsik atau faktor dari anak sendiri dan faktor eksterinsik atau faktor yang dating dari luar diri anak, diantaranya yaitu (Darmanto, 2009:22-23). 1. Faktor interinsik Faktor interinsik ini bersumber dari anak sendiri yang berpengaruh terhadap kondisi jasmani dan rohani anak untuk melakukan aktivitas belajar rasa malas belajar yang timbul dalam diri anak dapat disebabkan karena kurangnya motivasi untuk belajar. Motivasi ini beum tumbuh dikarenakan anak belum mengetahui manfaat dari belajar. Adapun faktornya yaitu a. Anak kekurangan waktu untuk bermain, sementara hari-harinya dipenuhi dengan kegiatan belajar dan berbagai macam les. b. Kelelahan yang berlebihan sehingga menimbulkan kelelahan dan mengganggu kesehatan anak. c. Anak yang sedang sakit akan cenderung lesu dan enggan beraktivitas, termasuk belajar. d. Anak-anak yang sedang dilanda kesedihan juga dapat memiliki terganggunya kejiwaan dan semangat anak untuk mengerjakan sesuatu. e. Rendahnya Intelektual Question/ Emosional Question (IQ atau EQ) anak. 2. Faktor eksterinsik a. Komunikasi tidak efektif b. Orang tua tidak pernah salah c. Target yang tidak pas (karena adanya tergetan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah untuk anak) d. Aturan yang tidak mendidik (rutinitas dan aturan yang terlalu ketat yang membuat anak malas belajar ataupun sebaliknya aturan yang tidak terlalu mengekang dapat juga dremehkan) e. Keadaan rumah yang bermasalah f. Bermasalah di sekolah g. Tidak ada sarana penunjang belajar

Rabu, 15 Agustus 2012

Sejarah Di Bali

Bangunan Sejarah Gunung Kawi Foto 1: Pura Gunung Kawi Gunung kawi berada di Kabupaten, yang berjarak sekitar 35 km arah timur laut tepatnya berlokasi di Banjar Penaka, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Jalur menuju Candi Gunung Kawi merupakan jalur yang sama menuju Istana Tampak Siring. Lokasi candi terletak sekitar 40 kilometer dari Kota Denpasar dengan perjalanan sekitar 1 jam menggunakan mobil atau motor. Sementara dari Kota Gianyar berjarak sekitar 21 kilometer atau sekitar setengah jam perjalanan. Apabila tidak membawa kendaraan pribadi, dari Denpasar maupun Gianyar wisatawan dapat memanfaatkan jasa taksi, bus pariwisata, maupun jasa agen perjalanan. Obyek wisata Candi Gunung Kawi telah dilengkapi berbagai fasilitas, seperti tempat parkir yang cukup memadai, para pemandu yang siap menjelaskan sejarah dan nilai budaya Candi Gunung Kawi, serta warung-warung yang menjual makan dan minuman di sekitar kompleks candi Candi Gunung Kawi memang unik. Kesan itu setidaknya dimulai sejak menuruni sejumlah 315 anak tangga di tubir Sungai Pakerisan. Suasana asri yang nampak dari rerimbunan pohon di tepi sungai, juga gemericik air dari sungai yang dikeramatkan di Bali ini membuat pengunjung seolah disambut oleh simfoni alam serta melewati hamparan hijaunya sawah yang sangat asri. Anak tangga-anak tangga untuk menuju Candi Gunung Kawi ini terbuat dari batu padas yang dibingkai dengan dinding batu. Candi Gunung Kawi adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat memuliakan roh Raja Udayana beserta keluarganya. Tafsiran ini dihubungkan dengan pahatan prasasti pada salah satu candi. Candi Gunung Kawi dibagi empat kelompok. Kelompok candi lima berada di sebelah timur Tukad Pakerisan. Semua bangunan mengarah ke barat. Candi ini disebut Candi Gunung Kawi, atau biasa juga dijuluki Candi Tebing Kawi. Meskipun merupakan salah satu situs purbakala yang dilindungi di Bali, tempat ini tetap menjadi tempat bersembahyang umat Hindu hingga sekarang. Nama Gunung Kawi sendiri konon berasal dari kata gunung (= gunung atau pegunungan), selain itu candi adalah lambang gunung yang merupakan lambang kesuburan serta kemakmuran. Disamping itu gunung juga dipandang sebagai tempat suci, memiliki arti penting terutama sebelum konsep pura sebagai tempat suci terbawa dan tertata di Bali dan kawi (=pahatan) (http://www.berani.co.id). Jadi, nama gunung kawi seolah menyiratkan makna bahwa di tempat inilah sebuah gunung dipahat untuk menjadi sebuah candi. Raja Udayana adalah raja dari Wamsa Warmadewa. Raja ini memerintah Bali bersama dengan permaisurinya bernama Mahendradata dengan gelar Gunapriya Dharma Patni yang berasal dari Jawa Timur. Sejak pemerintahan suami-istri pada abad XI ini prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja di Bali tidak lagi hanya menggunakan bahasa Bali, tetapi sudah menggunakan bahasa Jawa Kuno. Ini artinya pengaruh Hindu Jawa telah masuk ke Bali. Kesusastraan Hindu Jawa pun mulai semakin kuat mempengaruhi kesusastraan Bali (http://speqlen.co.cc). Sejak itulah secara pelan-pelan penduduk Hindu di Bali mengenal yang namanya ‘’sekar alit, sekar madia dan sekar agung”. Kesusastraan Jawa Kuna dengan muatan cerita Ramayana dan Mahabharata mulai masuk lebih intensif dari Jawa ke Bali. Demikian pula istilah pura masuk dan digunakan di Bali meskipun saat itu belum digunakan untuk menamakan tempat suci. Istilah pura saat itu baru digunakan untuk menyebutkan ibu kota kerajaan. Karena itu ada sebutan Linggarsa Pura, Sweca Pura dan Smara Pura. Pada abad ke-16 Masehi istilah pura baru digunakan sebagai sebutan tempat pemujaan. Sejak itulah baru ada istilah Pura Kahyangan untuk menyebutkan tempat pemujaan Hindu. Pura Gunung Kawi dalam wujud candi yang dipahatkan di tebing Sungai Pakerisan. Dalam prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Marakata, putra Raja Udayana, yaitu Prasasti Songan Tambahan dinyatakan: Sang Hyang Katyagan ing Pakerisan mengaran ring ambarawati. Kemungkinan nama itu adalah nama Candi Pura Gunung Kawi saat itu. Sedangkan nama Gunung Kawi mungkin muncul belakangan (http://speqlen.co.cc). Kompleks candi yang unik ini pertama kali ditemukan oleh peneliti Belanda sekitar tahun 1920. Sejak itu, candi ini mulai menarik minat para peneliti, terutama para peneliti arkeologi kuno Bali. Menurut perkiraan para ahli, candi ini dibuat sekitar abad ke-11 M, yaitu pada masa pemerintahan Raja Udayana hingga pemerintahan Anak Wungsu (http://www.berani.co.id). Menurut catatan sejarah, Raja Udayana merupakan salah satu raja terkenal di Bali yang berasal dari Dinasti Marwadewa. Melalui pernikahannya dengan seorang puteri dari Jawa yang bernama Gunapriya Dharma Patni, ia memiliki anak Erlangga dan Anak Wungsu. Setelah dewasa, Erlangga kemudian menjadi raja di Jawa Timur, sementara Anak Wungsu memerintah di Bali. Pada masa inilah diperkirakan candi tebing kawi dibangun. Salah satu bukti arkeologis untuk menguatkan asumsi tersebut adalah tulisan di atas pintu-semu yang menggunakan huruf Kediri yang berbunyi “haji lumah ing jalu” yang bermakna sang raja yang (secara simbolis) disemayamkan di Jalu. Raja yang dimaksud adalah Raja Udayana. Sedangkan kata jalu yang merupakan sebutan untuk taji (senjata) pada ayam jantan, dapat diasosiasikan juga sebagai keris atau pakerisan. Nama Sungai Pakerisan atau Tukad Pakerisan inilah yang kini dikenal sebagai nama sungai yang membelah dua tebing Candi Kawi tersebut (http://www.purbakalabali.com). Versi lainnya yang berasal dari cerita rakyat setempat menyebutkan bahwa pura atau candi Tebing Kawi ini dibuat oleh orang sakti bernama Kebo Iwa. Kebo Iwa merupakan tokoh legenda masyarakat Bali yang dipercaya memiliki tubuh yang sangat besar. Dengan kesaktiannya, konon Kebo Iwa menatahkan kuku-kukunya yang tajam dan kuat pada dinding batu cadas di Tukad Pakerisan itu. Dinding batu cadas tersebut seolah dipahat dengan halus dan baik, sehingga membentuk gugusan dinding candi yang indah. Pekerjaan yang seharusnya dikerjakan orang banyak dengan waktu yang relatif lama itu, konon mampu diselesaikan oleh Kebo Iwa selama sehari semalam (http://www.gianyartourism.com). Sesampainya di kompleks candi, akan menemukan dua kelompok percandian yang dipisahkan oleh aliran Sungai Pakerisan. Candi pertama terletak di sebelah barat sungai, menghadap ke timur, yang berjumlah empat buah. Sedangkan candi kedua terletak di sebelah timur sungai, menghadap ke barat, yang berjumlah lima buah. Pada kompleks candi di sebelah barat, juga dilengkapi kolam pemandian serta pancuran air. Menyaksikan dua kompleks candi ini, Anda akan dibuat takjub oleh pemandangan dinding-dinding batu cadas yang dipahat rapi membentuk ruang-ruang lengkung yang di dalamnya terdapat sebuah candi. Candi-candi ini sengaja dibuat di dalam cekungan untuk melindunginya dari ancaman erosi. Pahatan candi yang paling utara ada tulisan yang berbunyi ''haji lumah ing jalu'' tersebut. Kemungkinan candi yang paling utara untuk stana pemujaan roh suci Raja Udayana. Sedangkan yang lain-lainnya adalah stana anak-anak Raja Udayana yaitu Marakata dan Anak Wungsu serta permaisurinya. Di pintu masuk candi sebelah selatan dari Candi Udayana ada tulisan ''rwa anakira''. Artinya, dua anak beliau. Candi inilah yang ditujukan untuk stana putra Raja Udayana yaitu Marakata dan Anak Wungsu. Tipe huruf serupa dapat dilacak kembali ke zaman Kadiri (Jawa Timur) tahun 1100 – 1220 Masehi. Tipe huruf Kadiri Kwadrat biasanya dipergunakan pada prasasti-prasasti pendek sebagai hiasan pada candi, pintu gua, atau tempat suci, serta pada patung. Di Bali, jenis huruf ini banyak dipergunakan pada masa pemerintahan Raja Anak Wungsu. Dari tipe tulisan yang dipergunakan pada candi, maka dapat disimpulkan bahwa asrama Amarawati di Candi Gunung Kawi telah terbangun pada zaman Raja Udayana Warmadewa (911-933 Isaka), kemudian pada masa pemerintahan Raja Marakata (944- 947 Isaka). Ketika Raja Anak Wungsu berkuasa di Bali (971-999 Isaka), asrama ini ditambahkan bangunan berupa prasada (candi) lengkap dengan tulisan-tulisan yang mempergunakan huruf Kadiri Kwadrat (http://www.parisada.org). Tempat-tempat pemujaan Hindu lazim, memang, berdekatan dengan sumber-sumber air: danau, laut, sungai, mata air, ataupun pertemuan aliran air ( campuhan, sanggam ). Bila tak dekat air, kerap akan dibuatkan telag atau kolam buat mengalirkan dan menampung air. Bagi manusia Bali penganut Hindu, air tentu bukan sebatas sumber kehidupan dan pemberi kesuburan. Air juga mengandung makna kesucian. Karenanya, di Bali dalam suatu upacara ada istilah nunas tirtha , mohon air suci. Air-lah yang mengawali sekaligus mengakhiri seluruh rangkaian tradisi upacara manusia Bali Hindu, sampai kini. Maka, bukanlah suatu kebetulan manakala Candi Gunung Kawi berdampingan dengan aliran air Tukat Pakerisan yang berpusat hulu di Tirta Empul (http://wikansadewa.blogspot.com). Pada kompleks candi di sebelah barat terdapat semacam “ruang” pertapaan yang juga disebut wihara. Wihara tersebut dipahat di dalam tebing yang kokoh dan dilengkapi dengan pelataran, ruangan-ruangan kecil (seperti kamar) yang dilengkapi dengan jendela, serta lubang sirkulasi udara di bagian atapnya yang berfungsi juga untuk masuknya sinar matahari. Ruangan-ruangan di dalam wihara ini kemungkinan dahulu digunakan sebagai tempat meditasi maupun tempat pertemuan para pendeta atau tokoh-tokoh kerajaan lainnya. Disebelah tenggara dari komplek candi ini terletak Wihara (tempat tinggal atau asrama para Biksu/pendeta Budha). Situs lainnya yang masih satu kompleks dengan Candi Gunung Kawi adalah gapura dan tempat pertapaan yang disebut Geria Pedanda. Di tempat ini wisatawan dapat menyaksikan beberapa gapura dan tempat pertapaan. Para ahli menyebut tempat ini sebagai “Makam ke-10”. Penamaan oleh para ahli ini didasarkan pada tulisan singkat dengan huruf Kediri yang berbunyi “rakryan”, yang jika ditafsirkan merupakan tempat persemayaman seorang perdana menteri atau pejabat tinggi kerajaan. Sementara di bagian lain, agak jauh ke arah tenggara dari kompleks Candi Gunung Kawi, melewati persawahan yang menghijau, terdapat beberapa ceruk tempat pertapaan dan sebuah wihara yang nampaknya sebagian belum terselesaikan secara sempurna oleh pembuatnya. Kompleks Candi Gunung Kawi memang sengaja dibuat untuk persemayaman Raja Udayana dan anak-anaknya. Namun makna persemayaman di sini bukan sebagai kuburan untuk badan sang Raja dan keluarganya, melainkan dalam pengertian simbolis, yakni untuk penghormatan kepada sang raja. Oleh sebab itu, mengunjungi tempat ini Anda akan mendapatkan suasana tenang dan damai. Kompleks Candi Gunung Kawi memang merupakan tempat ideal untuk bermeditasi, sembahyang, atau untuk sekedar berwisata. Lokasinya yang sejuk dan terletak persis di tepi sungai membuat kompleks percandian ini menawarkan aura ketenangan batin yang dalam. Keberadaan Pura Candi Gunung Kawi ini yang menempatkan dua sistem keagamaan Hindu yaitu sistem Siwa dan sistem Budha sebagai suatu hal yang sangat baik untuk direnungkan demi kemajuan beragama Hindu ke depan. Di samping itu Raja Udayana sangat menerima baik adanya unsur luar yang positif untuk menguatkan budaya Bali saat itu. Seandainya Raja Udayana saat itu menolak apa yang datang dari luar Bali tentunya umat Hindu di Bali tidak mengenal kesusastraan Hindu seperti sekarang ini. Misalnya ada berbagai jenis karya sastra Parwa dan Kekawin dalam bahasa Jawa Kuno dengan muatan cerita Ramayana dan Mahabharata. Karya sastra Jawa Kuno ini amat besar jasanya dalam memperkaya kebudayaan Hindu di Bali sehingga Bali memiliki kebudayaan yang sangat tinggi sampai sekarang. Semua unsur itu dipadukan dengan budaya Bali yang telah ada sebelumnya. Demikianlah bijaknya Raja Udayana pada zaman dahulu Komplek di wilayah Gunung Kawi tersebut terdapat sawah pertanian luas dan subur, yang sepanjang tahun tak pernah kering, seolah-olah menjadi pagar alami yang mengelilingi Gunung Kawi. Ke atas lagi, ada telabah atau saluran irigasi untuk kepentingan pertanian penduduk. Kawasan Gunung Kawi memiliki air melimpah dengan curah hujan yang tinggi dan sumber-sumber mata air yang memberikan cadangan air yang tak pernah henti. Kenyataan ini menunjukkan, bahwa kompleks Gunung Kawi sejak dulu hingga kini, menerima resapan air dari atas dan akhirnya tentu akan sampai juga ke permukaan percandian, sehingga merusak kelestarian Gunung Kawi. Kondisi semacam ini memberi peluang bagi tumbuhnya lumut pada permukaan candi-candi tebing yang dapat mempercepat terjadinya kerusakan seperti pelapukan. Upaya pelestarian terhadap Gunung Kawi wajib hukumnya dan seharusnya dilaksanakan secara teknis arkeologis, seperti preservasi dan konservasi yang memerlukan berbagai keahlian, selain ahli arkeologi, juga para ahli nonarkeologi, yaitu ahli petrografi, mikrobiologi, kimia, meteorologi atau klimatologi, bahkan mungkin juga ahli pertanian. Pelestarian Gunung Kawi memang masalah yang rumit. Kiranya, masih ada siasat lain yang mungkin dapat dipertimbangkan yakni melaksanakan revitalisasi lingkungan pemukiman, masyarakat pemukiman di sekitarnya dan juga lingkungan situs Gunung Kawi sendiri. Ketiga faktor lingkungan ini adalah decisive factors yang sangat menentukan kelestarian Gunung Kawi dan nilai-nilai yang dikandungnya (http://www.balipost.co.id/index.html).

Senin, 13 Agustus 2012

KERAJAAN DEMAK


2.1  Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Demak
Demak dahulunya disebut dengan daerah yang dikenal dengan nama Bintoro atau Glagahwangi. Mengenai nama Bintoro ini terdapat berbagai pendapat adalah sebagai berikut (Salam, Solichin, 1960:14) :
  1. Dr. R. M. Soetjipto Wirjosoeparto
“Demak dari bahasa Kawi: artinya ialah pegangan (pemberian). Yang dimaksud Demak itu sesungguhnya daerah yang dihadiahkan rupa-rupanya oleh raja Majapahit kepada R. Patah. Daerah yang dihadiahkan oleh raja itu selalu disertai surat  resmi semacam besluit yang dipegang oleh orang yang menerimanya. Apabila R. Patah menerima hadiah tanah di pantai utara Jawa pemberian ini diberikan kepadanya (Demak), untuk dipegang (dikuasai). Adapun kata Bintoro, saya belum pernah dengar. Menurut paham saya, rupa-rupanya Bintoro berhubungan dengan perkataan betoro, dan betoro itu ialah gelar dari Dewa Syiwa. Bahwa bintoro itu ada hubungannya dengan betoro yang dalam agama Hindu dianggap bertahta dibukit kramat yang bernama Himalaya atau Parwata, keterangan ini diperkuat oleh nama bukit perwata di Grobogan”.
  1. Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka
Nama Demak itu adalah dari bahasa Jawa Kuno, ujarnya:
“Menurut riwayat, Demak itu menurut bahasa Jawa Kuno, artinya hadiah; Demak-cerkam.”
  1. Hamka
Nama Demak itu berasal dari bahasa arab:
“Menurut pendapat saya, kata Demak itu berasal dari bahasa Arab Dama’, artinya “air mata”. Karena kesulitan menegakkan Islam, maka dinamika Demak.
  1. H. Oemar Amin Hoesin
“Demak mungkin berasal dari kata bahasa arab Dimyat suatu nama kota yang terdaat di Mesir. Sebab pada zaman khalifah Fatimyah guru-guru agama banyak yang datang ke Indonesia, adalah dari sana”.
  1. Menurut Solichin Salam sendiri
Besar dugaan Demak itu berasal dari bahasa Arab, Dhima’ yang artinya rawa. Hal ini mengingat, bahwa di daerah Demak dimana ibu kota islam itu didirikan, adalah tanahnya kebanyakan berasal dari bekas rawa. Bahkan sampai sekarang jika musim hujan di daerah Demak sering digenangi air, maklumlah karena tanahnya adalah bekas rawa.

Glagahwangi atau Bintoro merupakan daerah kadipeten dibawah kekuasaan Majapahit. Kadipeten Demak tersebut dikuasai oleh Raden pattah. Raden Pattah adalah seorang keturunan raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi) yang juga termasuk dengan Raja Majapahit.
            Islam berkembang di Demak, karena Demak dijadikan sebagai wilayah untuk persebaran islam maka Demak banyak digunakan sebagai kota perdagangan yang sekaligus dengan penyebaran agama Islam di Jawa.
Kerajaan Demak adalah kerajaan  islam yang muncul pada tahun ± 1500 ─ ±1550. Demak adalah salah satu kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam yang berkembang di pantai utara pulau Jawa pada abad ke 15. Orang yang berkuasa di Demak pada permulaan abad – 16 adalah Raden Patah (Departemen Pedidikan dan Kebudayaan, 1975:319). Sekitar tahun 1500 seorang bhupati Madjapahit bernama Raden Patah, yang berkedudukan di Demak dan  memeluk agama islam (Soekmono,R., 1959:49), Raden Patah pula adalah raja pertama yang menganut agama Islam di Jawa.
Dalam penyiaran dan perkembangan Islam di Jawa selanjutnya, umumnya para muballigh Islam dikenal dengan sebutan Wali. Mereka ini kemudian mensentralisir aktivitetnya, dengan menjadikan kota Demak sebagai pusat kegiatan mereka. Atas permintaan Sunan Ampel, Raden Patah ditugaskan mengajarkan agama Islam serta membuka pesantren di desa Glagah Wangi[1] termasuk daerah kebupaten Jepara pada waktu itu, yang kemudian terkenal dengan nama Bintoro (Salam, Solichin, 1985:14).
            Maka dapat dikatakan bahwa, selain untuk memikirkan dalam bidang Politik, Raden Patah juga mengutamakan dalam penyiaran agama Islam yang terus dilakukan olehnya. Awal, yang dilakukan Raden Patah di tempat tersebut adalah dengan membangun atau membuka madrasah atau pondok pesantren, hal itu dapat dilakukan oleh Raden Patah dengan sebaik-baiknya. Dari kegiatan agama yang dilakukan oleh Raden Patah di daerah tersebut, selain tempat tersebut digunakan untuk menimba ilmu pengetahuan tentang agama, tetapi juga digunakan untuk perdagangan, karena tempat  tersebut juga dijadikan sebagai pusat kerajaan Islam pertama di Jawa.
            Kerajaan Islam pertama di Jawa dapat diduga berdiri pada tahun 1478 M. Hal ini didasarkan atas jatuhnya Kerajaan Majapahit. Karena Demak termasuk dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit sebelum Raden Patah menjadi Raja atau penguasa dari Kerajaan Demak. Pada suatu ketika Demak dapat membebaskan diri dari Kerajaan Majapahit, hal tersebut karena adanya perlawanan antara Kerajaan Majapahit dengan Demak, dan karena hal itu pula Kerajaan Mataram mengalami keruntuhan.
            Akan tetapi sebenarnya kejatuhan Kerajaan Majapahit bukanlah akibat dari serangan dari Demak, melainkan disebabkan antara lain oleh keretakan dari dalam sendiri[2] (Salam, Solichin, 1960:12). Maka dapat dikatakan bahwa penyebab dari runtuhnya Kerajaan Majapahit adalah karena ulah dari Kerajaan Majapahit itu sendiri pada masa lalu yang bertindak sewenang-wenang terhadap daerah kekuasaan dari Kerajaan Majapahit tersebut. Karena Kerajaan Majapahit itulah salah satunya sehingga Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden Pattah.
            Selain itu menurut Solichin Salim, 1960:12, adapun mula-mula yang menyebabkan Kerajaan Majapahit menjadi lemah sehingga mengalami keruntuhannya, antara lain disebabkan:
1.      Peperangan saudara antara Wikramawardhana dan Wirabumi yang terus menerus
2.      Pusat Pemerintahan kurang kuat
3.      Agama Islam telah mulai berkembang dengan pesat diseluruh Indonesia
4.      Perdagangan dengan Malaka terputus, karena Malaka makin maju dan menjadi pusat perdagangan.
5.      Agama Islam telah masuk lebih dahulu dalam Kerajaan Majapahit
6.      Pegawai-pegawai yang masuk Islam selalu berselisih dengan orang-orang yang masih beragama lama. Dan akhirnya serangan dari Girindra Wardhana dari Keling.
            Lalu dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit, maka dapat dikatakan bahwa Demak telah bebas dari bayang-bayang Kerajaan Majapahit yang pernah menguasainya. Menurut cerita Raden Patah itu bahkan sampai berhasil merobohkan Madjapahit dan kemudian memindahkan semua alat upacara Kerajaan dan pusaka-pusaka Majapahit ke Demak, sebagai lambang dari tetap berlangsungnya Kerajaan kesatuan Majapahit itu tetapi dalam bentuk baru di Demak[3] (Soekmono,R., 1959:49).
            Lokasi Kerajaan Demak yang strategis untuk perdagangan nasional, karena menghubungkan perdagangan antara Indonesia bagian Barat dengan Indonesia bagian timur, serta keadaan Majapahit yang sudah hancur, maka Demak berkembang sebagai kerajaan besar di pulau Jawa, dengan rajanya Raden Pattah, yang bergelar Sultan Alam Akbar al-Fatah.
            Dalam peperangan yang dilakukan Raden Patah, adapula yang mengatakan tindakan Raden Patah pada saat melakukan penyerangan terhadap Kerajaan  Majapahit, Raden patah bermaksud untuk perang melawan ayahya sendiri.[4] Telah disebutkan alasan dari mundurnya Kerajaan Majapahit tersebut,[5] membuktikan bahwa Raden Patah tersebut melakukan perlawanan itu hal itu hanya karena untuk dapat mempertahankan kehormatan agama Islam. Maka dapat dikatakan bahwa peperangan yang dilakukan oleh Demak itu semata-mata untuk mempertahankan diri dari sifatnya (Defensif) dan bukan agresif.
            Dapat dilihat bahwa Demak memiliki peran yang penting dalam persebaran Islam di Jawa, karena Demak berhasil menggantikan peran Malaka, setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511. Kehadiran Portugis di Malaka merupakan ancaman bagi Demak di Jawa. Untuk mengatasi keadaan tersebut maka pada tahun 1513 Demak melakukan penyebaran dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor.
            Serangan Demak terhadap Portugis mengalami kegagalan, walaupun Demak mengalami kegagalan tetapi Demak masih akan treus berusaha menghalangi masuknya Portugis ke pulau Jawa. Pada masa Adipati Unus (1518 – 1521), Demak melakukan blokade pengiriman beras ke Malaka sehingga Portugis kekurangan makanan. Puncak dari kebesaran Demak adalah pada saat masa pemerintahan Sultan Trenggono (1521 – 1546), karena pada masa pemerintahannya Demak memiliki daerah kekuasaan yang luas dari Jawa Barat sampai Jawa Timur.
            Ekspansi Demak di Jawa Barat dimulai dengan ekspedisi Syekh Nurullah atau yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, yang berhasil berturut-turut mendirikan Kerajaan Cirebon dan Banten. Bersamaan dengan ekspansi itu terjadilah proses islamisasi daerah-daerah tersebut serta pengembangan kebudayaan Jawa.
            Adapun kehidupan sosial dan budaya masyarakat Demak lebih berdasarkan pada agama dan budaya Islam karena pada dasarnya Demak adalah pusat penyebaran Islam Demak menjadi tempat berkumpulnyapara Wali seperti Sunan Kalijogo, Sunan Muria, Sunan Kudus dan Sunan Bonang. Para Wali tersebut memiliki peranan yang penting pada masa perkembangan Kerajaan Demak bahkan para Wali tersebut menjadi penasihat bagi raja Demak. Dengan demikian terjalin  hubungan yang erat antara raja/bangsawan, para Wali/ulama dengan rakyat. Hunungan ynag erat tersebut, tercipta melalui pembinaan masyarakat yang diselenggarakan di Masjid maupun Pondok Pesantren. Sehingga tercipta kebersamaan atau Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan di antara orang-orang Islam).
            Demikian pula dalam bidang budaya banyak hal yang menarik yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Demak. Salah satunya adalah Masjid Demak, di mana salah satu tiang utamanya tersebut dari pecahan-pecahan kayuyang disebut Soko Tatal. Masjid Demak dibangun atas pimpinan Sunan Kalijogo. Diserambi depan Masjid/Pendopo itulah Sunan Kalijogo menciptakan dasar-dasar perayaan Sekaten (Mulid Nabi Muhammad SAW.) yang sampai sekarang masih berlangsung di Yogyakarta dan Cirebon.

2.2 Masa Pemerintahan Kerajaan Demak
            Pada saat Majapahit telah mengalami kemunduran secara langsung wilayah kekuasaannya mulai dapat memisahkan diri. Begitu juga dengan Demak yang juga memisahkan diri dari wilayah Majapahit, dengan mendirikan kerajaan sendiri yaitu Kerajaan Demak. Pada saat memisahkan dari Kerajaan Majapahit Kerajaan Demak yang dikenal sebagai kerajaan Islam, mulai dapat berkreasi dengan sepenuhnya, sampai mendapatkan sebuah kejayaan. Kerajaan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di Muara sungai Demak, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria.[6] Bintoro sebagai pusat Kerajaan Demak terletak antara Bergola dan Jepara, dimana Bergola adalah pelabuhan yang penting pada masa berlangsungnya Kerajaan Mataram (Wangsa Syailendra), sedangkan Jepara akhirnya berkembang sebagai pelabuhan yang penting bagi Kerajaan Demak.
Kerajaan Demak telah menjadi Kerajaan Islam yang mencapai kejayaannya pada tahun 1511 yang dibawah pimpinan Raden Pattah, lalu pada tahun 1513 Kerajaan Demak sudah berani dalam memimpin suatu armada yang menggempur Malaka untuk mengusir orang Portugis. Sayang bahwa usaha ini gagal; armada Portugis lebih unggul (Soekmono,R, 1959:50).
Masa Kejayaan tersebut didapatkan karena dibawah pimpinan Raden Pattah yang dapat memimpin dengan baik. Berbagai usaha yang dilakukan selalu berbuah dengan baik dan memuskan.tetapi kejayaan tersebut sangatlah cepat, karena pada tahun 1518 Raden pattah meninggal dunia.
Dalam masa ini juga terdapat Kesultanan yaitu Kesultanan Demak atau juga disebut dengan Kesultanan Demak Bintara adalah kesultanan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Pattah pada tahun 1478. Kesultanan ini sebelumnya merupakan Kadipatian (kadipaten) dari Kerajaan Majapahit, dan tercatat menjadi pelopor penyebaran agama Islam di Pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya. Kesultanan Demak tidak berumur panjang dan segera mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan diantara kerabat Kerajaan. Pada tahun 1568, kekuasaan Kesultanan Demak beralih ke Kesultanan Demak ialah Masjid agung Demak, yang diperkirakan didirikan oleh Walisongo. Lokasi Ibukota Kesultanan Demak, yang pada masa itu masih dapat dilayari dari laut dan dinamakan Bintara, saat ini telah menjadi kota Demak di Jawa Tengah. Pada masa Sultan ke-4 ibukota dipindahkan ke Prawata.

2.3 Kemunduran Kerajaan Demak
            Awal dari kemunduran Kerajaan Demak adalah saat Raden Patah meninggal dunia. Lalu yang menggantinya sebagai sultan adalah Pati Unus.[7] Tidaklah lama Pati Unus dalam mengganti Raden Patah menjadi Sultan, karena Pati Unus 3 tahun kemudian beliau meninggal dunia. Pengganti dari Pati Unus adalah saudara dari beliau sendiri yaitu Pangeran Trenggana, beliau adalah orang yang giat juga seperti Sultan-sultan sebelumnya dalam menegakkan agama Islam dan memajukan Kerajaan Demak. Tetapi hal tersebut tidaklah lama, karena setelah Sultan Trenggono meninggal yang mungkin terjadi pada tahun 1546, Sultan Trenggono meninggal pada saat berusaha dalam menaklukan Pasuruan, tetapi gagal. Lalu setelah Sultan Trenggono meninggal, di Kerajaan Demak timbul kegoncangan politik yang menyebabkan pembunuhan di kalangan keluarga sultan itu sendiri (Departemen Pedidikan dan Kebudayaan, SNI3, 1975:321).
            Sebelum Sultan Trenggana meninggal, adapun hal-hal yang dilakukannya untuk Kerajaan Demak, yang disebutkan oleh R. Soekmono adalah
  1. Seorang terkemuka dari pase, bernama Fatahillah, yang sempat melarikan diri dari kepungan orang-orang Portugis, diterima oleh Trenggono dengan kedua belah tangan. Fatahillah ini bahkan ia kawinkan dengan adik sang raja sendiri dan ia ternyata adalah orang yang dapat melaksanakan maksud-maksud Trenggono, yaitu berhasil menghalangi kemajuan Portugis dengan merebut kunci-kunci perdagangan Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat.
  2. Trenggono berhasil menaklukan Mataram di pedalaman Jawa Tengah, dan juga Singhasari di Jawa Timur bagian selatan.

Adapun kegoncangan Politik di Kerajaan Demak menyebabkan adanya pertumpahan darah di kalangan keluarga sultan itu sendiri. Sunan Prawanta merasa dirinya sebagai ahli waris yang sah atas takhta Kerajaan Demak, akan tetapi ia kemudian dibunuh oleh putra pamannya. Setelah itu Sultan Kalinyamat merasa berhak atas kerajaan itu, tetapi ia mengalami nasib yang sama seprti Sunan Prawanta. Pembunuhan ini dapat dimusnahkan oleh Adiwijaya[8] yang bersekutu dengan ratu Kalinyamat. Setelah itu Adiwijaya mengangkat dirinya menjadi sultan dari Demak (Departemen Pedidikan dan Kebudayaan, SNI 3, 1975:321).
Pemindah kekuasaan di tangan Adiwijaya, sehingga dengan sewenang-wenangnya Adiwijaya memindahkan Keraton Demak ke Pajang pada tahun 1568, dengan adanya tindakan ini maka berakhirlah riwayat dari Kerajaan Demak.

2.4  Silsilah Raja-Raja Kerajaan Demak
Raja-raja Kerajaan Demak diantaranya adalah
  1. Raden Pattah (Putra Raja Majapahit Brawijaya) serta pendiri Kerajaan Demak juga
  2. Pati Unus
  3. Sultan Trenggono


[1] Demak pada masa sebelumnya sebagai suatu daerah yang dikenal dengan nama Bintoro atau Glagahwangi
[2] Seperti banyak daerah-daerah yang dahulu di bawah kekuasaan Majapahit memisahkan diri, karena rakyatnya makin lama makin hidup sengsara.
[3] Dalam waktu yang singkat pula lebih-lebih oleh karena jatuhnya Malaka ke tangan orang Portugis pada 1511, Demak mencapai kejayaannya.
[4] Prabu Brawijaya V adalah raja dari Majapahit yang sekaligus juga Ayah dari Raden Patah.
[5] Pegawai-pegawai yang masuk Islam selalu berselisih dengan orang-orang yang masih beragama lama. Dan akhirnya serangan dari Girindra Wardhana dari Keling.
[6] Sekarang Laut Muria sudah merupakan dataran rendah yang dialiri Sungai Lusi.
[7] Pati Unus terkenal juga dengan nama Pangeran Sabrang Lor
[8] Adiwijoyo lebih dikenal dengan nama Joko Tingkir, Ia adalah seorang menantu Sultan Trenggana, dengan berkuasa di Pajang (Daerah Boyolali).

Sabtu, 11 Agustus 2012

mengenal apa itu Cinta

Dulu ku tak mengerti cinta
Cinta suatu hal yang tak berguna bagiku...
cinta itu suatu lembaran yang kosong bagitu tak berwarna dan beraroma
kini bersamamu ku mengerti cinta
Dalam lembar kosong kini telah terukir sebuah cerita,
cerita kisah cintaku yang penuh lika liku...
telah beraroma berbagai macam rasa...
sungguh indah pada awalnya,
tetapi begitu memilukan hingga kini,
ku selalu berharap kisah cintaku terus terukir dengan cinta hakiki...
apalah arti cinta jika tak mengertiapalah artinya cinta jika bersendiri
apalah artinya cinta jika penuh keraguan dan kecemasan
Cinta lahir dari hati, tumbuh dari kasih dan berakhir sampai mati...
kuingin cintaku seperti itu
cinta tak berdiri tapi mampu menundukkan orang
cinta memang aneh, ingin merasakan cinta tapi begitu takut,
ku kan terus mengejar cintaku dan takkan ku bagi...
mungkin ku hanya omong kosong yang selalu berbunyi tapi tak bereaksi
tapi sadarlah dan perhatikan apa yang dapat dilakukan oleh Cinta....

I love You

Masih kuingat dengan jelas senyuman pertamamu saat berjumpa dulu,
ku tahu senyuman itu tak seperti itu dulu lagi
bahkan sayangmupun telah terbang tertiup angin
tapi seperti yang telah engkau dengar bahwa perasaanku tetap seperti yang dulu tak berubah...
memang aku tak sepintar cowok pada umumnya mengenai perasaan cewek..
tapi aku pun punya perasaan yang tetap harus ku jaga...
aku selalu berharap semoga kelak perasaan ini bisa terlihat dengan jelas di matamu
tuk buatmu selalu bahagia.....